“Pertama kalinya Anita naik kereta api kelas ekonomi”
Rona kegembiraan terpancar jelas dari wajah manis Anita. Ia baru saja melepaskan status dirinya sebagai anak SMP. Dan kini Anita resmi menyandang predikat pelajar SMU, mengenakan seragam baru kebanggaannya—putih abu-abu.
Usai kelulusan Anita langsung mendaftarkan diri ke sebuah SMU favorit di kota. Beruntung Dewi Fortuna berada di pihaknya. Ia bisa lulus seleksi dan diterima di sana. Bahkan ia harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya saat memutuskan pilihan, tinggal di rumah kos dekat sekolahnya. Jarak yang cukup jauh antara rumah dengan sekolah barunya tidak memungkinkan Anita menempuh perjalanan pulang pergi setiap hari. Apalagi usai sekolah ia mengikuti les pelajaran di sebuah bimbingan belajar. Bisa dibayangkan jika ia tetap ngotot dan tidak menuruti saran papa mamanya, pastilah waktunya habis di perjalanan. Waktu istirahat pun jelas ikut tersita.
Kini Masa Orientasi Sekolah (MOS) baru saja berakhir. Anita bisa tersenyum lega. Setidaknya ia tidak lagi mendengar teriakan-teriakan arogan Kakak-Kakak Kedisiplinan yang acap kali memberikan sangsi kepada peserta MOS. Ia juga tidak perlu lagi mengenakan atribut-atribut yang cukup memuakkan untuk dilihat. Setiap hari ke sekolah memakai ‘seragam kebesaran’: tas plastik, topi kardus, rambut kuncir dua berponi, dan kalung rafia berbandul namanya dalam ukuran besar. Mengingat semua itu membuat Anita tersiksa. Harapannya tentu bisa segera mengenakan baju seragam putih abu-abu kebanggaannya, bukan malah berdandan ala sekolah bebek. Ia hanya bisa tersenyum nyegir mengenang masa-masa tersebut. Dalam benaknya masih melekat kuat saat ia terkena hukuman. Waktu itu dirinya tidak mampu menjalankan tugas dari salah satu Kakak Kedisiplinan, makan kerupuk bundar besar dalam tempo satu menit. Saat waktu habis justru Anita tersendak-sendak dan kerupuknya masih tersisa hampir separuh. Kakak-Kakak Kedisiplinan yang berjumlah delapan orang langsung mengerjai Anita. Ia disuruh keliling barisan sambil mengucapkan, “Aku anak mama, makan minta disuapin.” Ughh… Kesal sekali dan sekaligus membuatnya malu tiada terperi. Wajahnya sempat memerah menyerupai kepiting rebus, menahan air mata yang sudah hampir tak terbendung lagi.
Anita menutup diarynya. Ia telah puas menumpahkan perasaannya selama sepekan ini melalui goresan penanya. Minggu pagi ini ia sengaja tidak pulang ke rumah. Anita telah merencanakan pergi merayakan ulang tahun sepupunya yang berada di luar kota. Siang nanti akan diadakan pesta kecil-kecilan di sana.
“Nita, kamu serius berangkat sendiri?” tanya ibu kos setengah tak percaya.
Ibu kos menatap Anita penuh keraguan. Wanita itu tahu betul sosok Anita yang masih manja dan kekanak-kanakan. Diam-diam ia tidak tega membiarkan Anita berangkat naik kereta api sendirian. Apalagi menurut pengakuan Anita, dirinya belum pernah sama sekali naik kereta api.
“Nggak masalah kok, Bu. Nanti dijemput paman di stasiun,” jawab Anita mencoba meyakinkan keraguan wanita yang berdiri di depannya itu.
“Baiklah, yang penting kamu berhati-hati,” pesan ibu kos.
“Ya, Bu,” jawab Anita sambil tersenyum.
“Kamu naik kereta jam berapa?”
“Jam delapan, Bu. Sebentar lagi saya berangkat, biar nggak telat.”
“Pulangnya jam berapa dari sana?”
“Insya Allah jam tiga sore, Bu. Mungkin pulangnya naik bis karena jadwal kereta ke sini adanya malam.”
“Baiklah. Anita kamu hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana.”
Masih dengan kecemasan wanita itu melepas kepergian Anita. Akhirnya Anita berangkat menuju stasiun setelah berpamitan dengan ibu kosnya. Beruntung jarak rumah kosnya dekat dengan stasiun. Dengan berjalan kaki, ia hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit agar bisa sampai di sana.
Anita melirik arloji di lengan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 8.40. Ia segera mempercepat langkah kakinya. Matahari mulai nampak beranjak naik dari posisinya semula. Terik panasnya pun terasa semakin menyengat kulit. Anita mengeluarkan selembar kertas tisu dari balik sakunya. Ia perlahan menyeka butiran keringat tersebut yang kini mulai menetes.
Sesampai di sebuah perempatan jalan, ia sejenak menghentikan langkahnya. Lalu lalang kendaraan yang mulai padat tidak memungkinkannya menyeberang saat ini. Begitu kendaraan mulai sepi, ia segera melintas. Anita kemudian memilih jalur alternatif. Sebuah jalan pintas yang menghubungkan jalan utama dengan stasiun, di sela-sela pemukiman padat penduduk. Benar saja, lima menit kemudian ia sudah sampai di sana.
Setelah mengantri di loket, Anita segera memasuki peron. Dalam hati ia berharap-harap cemas, semoga kereta tidak penuh. Maklum temannya pernah bercerita, kereta ekonomi sering kali laris manis di saat liburan atau hari Minggu seperti sekarang. Dan ini adalah pertama kalinya ia naik kereta api kelas ekonomi. Perasaannya tentu saja bercampur aduk saat ia menunggu kereta datang.
Tepat jam 9.15 gemeretak laju gerbong kereta mulai terdengar memasuki stasiun. Dan kekhawatiran Anita menjadi kenyataan. Kereta ternyata penuh sesak dengan penumpang.
“Ughh …”
Anita tampak ikut berdesakan di antara penumpang lain yang berebut menaiki gerbong, berharap masih menjumpai bangku yang kosong. Beruntung tubuhnya yang mungil bisa segera lolos dari desak-desakan itu. Hingga ia bisa secepatnya mencari tempat duduk yang masih tersisa. Di gerbong paling belakang akhirnya Anita bisa menemukan tempat duduk tersebut.
“Alhamdulillah …,” ucapnya sedikit lega.
Kecemasan belum berhenti sampai di situ. Ancaman pencopet mulai menghantui pikirannya. Tas ransel kecil tempat ia menyimpan sejumlah uang dan telepon genggam, sejak tadi di dekapnya. Sesekali waktu ia sibuk memasukkan tangannya ke dalam tas, memastikan isinya tidak berkurang sedikit pun.
Kereta terus berjalan meninggalkan stasiun yang sudah tidak terlihat lagi. Rangkaian gerbongnya dari jauh tampak meliuk-liuk laksana ular raksasa yang sedang berjalan. Terkadang mendaki dan suatu waktu menurun. Mengikuti liku-liku rel di tanah yang mulai memasuki daerah perbukitan.
Anita duduk dengan gelisah. Suara pedagang asongan yang sejak tadi berseliweran menawarkan barang dagangan sangat mengganggu telinganya. Ia sama sekali tidak menyangka terjebak dalam situasi seperti ini. Ada sepercik penyesalan mengapa ia tadi tidak memutuskan naik bis saja. Tapi ia pun tidak ingin menyerah. Anita sama sekali tidak ingin kalah. Dirinya terlanjur menerima tantangan dari teman sebangkunya di kelas untuk naik kereta api kelas ekonomi sendirian.
“Sarah, akan kubuktikan aku berani dan tidak secengeng yang kau dan teman-teman tuduhkan,” gumam Anita dalam hati.
Sekuat tenaga Anita berusaha menghimpun energi keberanian dalam dirinya. Agar esuk hari ia bisa kembali ke sekolah dengan bangga. Tidak lagi mendapat predikat anak mama sebagaimana gelar yang disematkan Kakak-Kakak Kedisiplinan sewaktu MOS minggu lalu. Julukan tersebut jelas sangat menjengkelkan perasaannya. Ia tidak ingin lagi dianggap sebagai anak mama. Ia merasa saat ini dirinya sudah cukup dewasa. Bukan pula anak mama yang cengeng dan manja, sebagaimana anggapan teman-teman sekolahnya.
Setengah jam sudah Anita duduk menikmati gemeretak laju gerbong kereta api. Sayup-sayup alunan musik grup pengamen jalanan mulai terdengar dari gerbong sebelah. Bersaing dengan suara pedagang asongan yang tidak pernah bosan menawarkan barang dagangannya.
Udara dalam gerbong terasa semakin panas. Anita berulang kali menghapus peluhnya. Sesekali ia menutup hidungnya dengan kertas tisu. Bau asap rokok terus menari-nari di sekitarnya. Membuat hatinya semakin dongkol.
“Dasar nggak tahu diri! Sepanas ini masih merokok juga!” umpatnya dalam hati.
Di kejauhan pedagang kipas menuai untung. Udara panas membuat hampir semua penumpang kegerahan. Begitu pula dengan Anita. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sejak tadi ia kebingungan mencari sesuatu yang bisa dibuat kipas. Dalam hati terus berharap pedagang kipas itu segera mendekati tempat duduknya.
“Kipas …kipas…kipas Bu. Kipas Mbak …”
“Ah …Riko …”
Anita menajamkan pandangannya. Sepertinya ia mengenal sosok itu. Dan ia pun semakin terkejut ketika sosok tersebut mulai mendekat ke arahnya.
“Kipas Mbak …?”
“Riko… kamu???”
Keterkejutan Anita semakin memuncak begitu menjumpai sosok penjual kipas itu tidak lain adalah Riko, teman sekelasnya.
“Nita, sendirian?” sapa Riko dengan tenang.
“Iya, ngapain kamu di sini?” tanya Anita keheranan.
Riko tersenyum simpul. Ia kemudian menjawab, “Seperti yang kamu lihat. Berjualan kipas. Kamu mau beli, kan?”
“Kamu tidak bercanda?” tanya Anita masih setengah tidak percaya.
“Tiga kali dalam seminggu aku berjualan kipas di kereta. Biasanya sepulang sekolah. Tapi kalau hari Minggu seperti sekarang bisa sejak pagi,” jelas Riko.
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanya Anita tidak mengerti.
Beribu tanda tanya mengendap di benaknya. Sosok Riko yang dikenalnya pendiam itu tiba-tiba ia jumpai berjualan kipas. Tidak malukah dia?
“Demi membantu ibuku, mencari tambahan biaya SPP,” ungkapnya dengan polos.
“Ayahmu?” tanya Anita seperti sedang menginterogasi.
“Sudah meninggal sejak aku bayi …,” kenang Rio. “Bagaimana, jadi beli kipasku?”
Untuk sesaat Anita tercenung. Tak berapa lama kemudian ia pun tersenyum. Ia segera mengeluarkan selembar uang puluhan ribu lalu menyerahkannya pada Riko.
“Kembalinya buat kamu.”
“Terima kasih. Kamu simpan saja buat ditabung. Maaf, aku harus berjualan lagi.”
Riko berlalu meninggalkan Anita yang masih duduk termangu. Dalam hati, Anita merasa kagum terhadap Riko. Si Pendiam itu ternyata anak yang mandiri dan memiliki semangat juang dalam mengarungi hidup. Ah … Anita tiba-tiba merasa malu pada dirinya sendiri. Ia yang selalu ingin dianggap dewasa dan mandiri ternyata belum sepenuhnya benar. Justru ia mulai sadar, apa yang diucapkan teman-temannya memang benar adanya. Dirinya masih anak mama yang cengeng. Anita bisa merasakan itu. Bukankah ia sempat menangis dan tidak bisa tidur semalaman saat pertama kalinya tidur di rumah kos. Bahkan ia merengek pada papanya minta dibelikan guling buaya baru karena guling buaya miliknya tertinggal di rumahnya. Oh … Anita berulang kali mendesah panjang.
Kereta terus melaju. Setelah melewati dua stasiun kecil, akhirnya perjalanan Anita sampai sudah di tujuan. Rasa tegang dan kecemasan yang sempat ia rasakan hampir selama satu jam di kereta kini perlahan mulai sirna. Tiba-tiba, ringtone incoming allert di telepon genggamnya berdering.
“Halo, Paman di sebelah mana?”
Anita menebarkan pandangannya ke sekeliling ruang tunggu. Begitu pandangannya menemukan sosok yang dicarinya, ia pun berlari-lari kecil menuju ke sana.
“Nita, bagaimana kau baik-baik saja?” sambut Paman Anita.
“Alhamdulillah… Paman sudah sejak tadi menunggu?”
“Hampir lima belas menit. Ayo kita segera pulang. Bibi dan Erni sudah sejak tadi menunggumu.”
Keduanya berjalan menuju ke tempat parkir. Paman Anita segera mengemudikan Toyota Rush miliknya dengan kecepatan sedang, meninggalkan parkiran stasiun yang masih ramai dengan lalu lalang penumpang kereta. Sepanjang perjalanan menuju rumah pamannya, Anita masih memikirkan pertemuannya dengan Riko di atas kereta tadi.
“Kenapa diam saja, Nita? Kecapaian habis naik kereta ekonomi?” tanya pamannya diiringi derai tawa melihat Anita yang menatap kosong.
“Ah, Paman bercanda,” ucap Anita tersipu malu.
“Kamu sudah menang kan hari ini? Berani naik kereta api kelas ekonomi sendirian ke sini?” ledek pamannya lagi.
Anita terdiam. Ah … kemenangan itu baginya sekarang tidak ada artinya lagi dibandingkan keberanian dan kemandirian Riko dalam mengarungi riak-riak kehidupan ini. Sorot matanya menerawang jauh ke depan. Ia mulai tenggelam dalam lamunan dan lautan penyesalan. Betapa seragam putih abu-abu kebanggaannya belum menjanjikan apa-apa untuk sebuah kemandirian dan melepaskan gelarnya sebagai anak mama.
“Pukk …”
Paman Anita menepuk pundaknya.
“Kita sudah sampai.”
Anita tersadar dari lamunannya. Ia pun turun dari mobil mengikuti langkah kaki pamannya, meninggalkan bayang-bayang Riko yang terus bercokol di benaknya ***
Beji, Pasuruan, 8 Pebruari 2009
Tampilkan postingan dengan label Fiksiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksiku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 Oktober 2009
Jumat, 24 Juli 2009
Teror Belum Berakhir
Sebuah pesan singkat kuterima lagi sore ini. Isinya senada dengan beberapa hari yang lalu, suara-suara lantang bernada ejekan mereka teriakkan lagi. Apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Mereka sama-sama penikmat dan pelayan seks laki-laki.
Gerah sekali rasanya. Pesan tadi sungguh membuat merah telingaku. Gigiku spontan bergemeretak menahan amarah yang hampir saja meledak. Aku tercenung sejenak hampir tidak mengerti mengapa mereka bisa sampai berpikiran tidak waras seperti itu.
Sayup-sayup lantunan adzan Maghrib berkumandang di kejauhan, mampu sedikit meredam semua itu. Segera kuambil air wudhu, menundukkan segenap emosi sembari bermunajat kehadapan Illahi Rabbi. Semoga pikiran-pikiran negatif yang bergentayangan di dalam benakku segera terhapus dan ternetralisir.
Wajahku tengadah menatap semburat langit senja yang masih tertutup mendung. Gumpalan awan berarak menandakan musim hujan belumlah berakhir.
Kubuka kembali file presentasi makalahku yang tersimpan dalam memori laptopku. ’Jebakan Gender dalam Politik Demokrasi’, judul makalah inilah yang telah membuat gusar mereka. Makalah tersebut kupresentasikan seminggu lalu dalam diskusi publik temu aktivis wanita di kampus. Animo peserta sangat luar biasa mengapresiasikannya. Forum terbelah menjadi dua kubu. Pro-kontra mewarnai jalannya diskusi.
Bagi sebagian kalangan mungkin tema yang kuangkat tidaklah populer. Dan bahkan cenderung melawan arus. Di saat mereka menyuarakan quota 30% bagi wanita di parlemen, aku justru sebaliknya. Demikian pula ketika mereka dengan semangat mengajak kaum wanita berbondong-bondong ke ranah publik untuk mengais rupiah, aku malah dengan keukeuh mempertahankan fitrah wanita untuk mengoptimalkan perannya di ranah domestik sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga) dan juga madrasatul ’ula (pendidik pertama dan utama) bagi buah hati generasi masa depan.
Siapa bilang agama yang dibawa Rasulullah memenjarakan wanita dan menjadikan wanita terdiskriminasi? Dengan gamblang kujelaskan, setiap muslimah adalah politikus intelektual. Mereka bergelut di ranah publik dalam rangka mencerdaskan umat, mendidik umat menjadi hamba Allah yang taat pada hukum-hukum-Nya di segenap aspek kehidupan. Inilah politik sejati nan mulia yang diajarkan Rasulullah!
Ah... sekali lagi aku tak habis pikir. Kenapa mereka terus menerorku. Bukankah ini negeri demokrasi? Bukankah dunia juga telah mengakuinya dengan menyematkan medali demokrasi buat negeri yang katanya zamrud katulistiwa ini? Ah... untuk yang kesekian kalinya aku menghela napas. Di mana bagian dari kebebasan berpendapat yang mereka teriakkan itu?
Masih lekat dalam ingatanku, ketika usai acara mereka menghadiahkan sebuah buku berjudul ’Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual’. Astaghfirullah...aku hanya bisa menghela napas panjang lagi. Inikah yang terjadi di negeri yang mengaku religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran itu? Ya, mungkin aku harus mengulanginya sekali lagi, karena ini adalah negeri demokrasi!
&&&
Hari masih pagi, rintik-rintik hujan sudah membasahi bumi kembali. Beruntung rumahku masih bebas banjir, mengingat minggu-minggu terakhir ini beberapa wilayah di tanah air telah tenggelam di terjang banjir. Kemacetan panjang akibat banjir pun tak terelakkan lagi. Tidak hanya itu, beberapa fasilitas umum seperti lampu penerangan, air PAM, dan saluran telepon di daerahku juga sempat mengalami gangguan akibat banjir.
Di salah satu selasar yang menghubungkan fakultasku dengan fakultas teknik, seorang wanita muda dengan stelan merah hati tampak sedang berdiri di pojok gedung. Pasti itu Anita tebakku. Dia seorang penulis, salah satu peserta yang hadir dalam acara minggu lalu.
”Anita kan?” tanyaku memastikan.
Sebuah senyuman terkulum manis menebarkan aura kecantikannya.
”Masih ingat, ya? Nggak kena macet?” sapanya ramah.
Aku menggeleng. ”Berangkat pagi bareng ayam jago kukuruyuk...,” lanjutku.
Kami berdua tertawa kecil. Nuansa keakraban mengalir di antara kami padahal kami baru saja saling kenal.
”Ada jam kuliah?” tanyanya mencari kepastian.
”Nanti jam terakhir, kita punya banyak waktu,” jelasku meyakinkan. ”Sudah sarapan?”
Anita kembali tersenyum. ”Sepotong roti pake selai strawberry, nggak sempat yang lain.”
”Bagaimana kalau sarapannya dilanjutkan di kantin saja sambil ngobrol?” tawarku.
”Boleh.”
&&&
Suasana di kantin tidak seramai biasanya. Mungkin musim hujan dan juga ancaman banjir yang bisa datang sewaktu-waktu membuat sebagian mahasiswa absen kuliah. Akibatnya, kantin pun kena imbasnya.
”Pesan apa?” tanyaku sambil mencari ide menu makan yang mungkin bisa menjadi alternatif pilihanku.
”Em...nasi goreng spesial.”
”Minumnya?”
”Jeruk hangat. Kamu sendiri pesan apa?” tanya Anita sambil menatapku.
”Sama saja, deh.”
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit pesanan kami akhirnya datang juga.
”Sambil makan, kita lanjutkan ya diskusi kita?” ajak Anita mencoba memulai pembicaraan lebih serius.
”OK.”
”Terus terang aku penasaran dengan semua yang kamu paparkan dalam makalah itu. Sebuah gagasan yang nggak lazim di jaman seperti ini. Sebenarnya siapa sih yang menginspirasi kamu?” tanya Anita dengan tak sabar. Ada sebuah rasa penasaran yang mencuat dari nada bicaranya.
Aku terdiam sesaat. Kulahap habis nasi goreng di hadapanku.
”Rasulullah dan para shahabiyah, maksudku sahabat wanita di jaman Rasul,” jawabku singkat.
Kulihat Anita mengernyitkan dahinya.
”Terdengar aneh?” Aku balik bertanya.
”Bukankah itu sudah terjadi di jaman lampau? Sekarang semua sudah berubah, kita sudah berada dalam dunia modernitas,” tandasnya.
”Apanya yang berubah? Modern yang seperti apa? Kalau teknologi sih iya. Dulu jamannya Rasul nggak ada komputer, nggak ada pesawat, bisanya naik onta. Sekarang semua fasilitas serba komplit. Tapi untuk kejahatan moral dan rusaknya peradaban kan sama?!”
”Maksudmu?” tanyanya semakin tidak mengerti.
”Dulu peradaban jahiliyah banyak bayi wanita yang dibunuh, free sex merajalela, pecandu miras banyak, homoseks juga ada. Sama kan dengan sekarang? Bahkan lebih parah lagi. Bayi yang dibunuh tidak sekedar berkelamin wanita tapi juga pria. Aborsi begitu kan?” ungkapku. ”Homoseks pun sekarang mulai mewabah. Padahal hewan saja nggak ada kan yang sampai begitu? Mana ada hewan yang kawin sejenis?!” lanjutku menimpali.
”Ya, bisa jadi. Tapi bagaimana dengan diskriminasi itu? Bukankah ini yang memandulkan kreativitas kaum wanita?” kembali Anita melontarkan sederet pertanyaan padaku.
”Apa memaksimalkan peran sebagai ibu, mendidik anak, mengurus rumah tangga dikatakan diskriminasi? Bukankah kaum wanita juga berhak mengecap pendidikan yang setara dengan kaum pria? Kalau kesetaraan yang dimaksud meliputi seluruh aspek dan harus sama persis, it’s impossible. Ada peran masing-masing antara pria dan wanita yang nggak bisa disubstitusikan. Hamil, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak adalah peran khusus buat wanita. Nggak bisa digantikan oleh pria,” imbuhku.
”Nah, inilah yang menyebabkan wanita tergantung pada pria,” ulas Anita.
”Secara finansial? Ya karena itu sudah kewajiban suami menafkahi istri.”
”Nggak semua suami berpemikiran demikian. Coba kamu bayangkan saja jika istri tidak mandiri secara finansial, pasti suami bisa seenaknya. Faktanya demikian kan?”
”Ketika istri dan suami tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing, wajar itu semua terjadi. Seperti sekarang ini. Banyak suami melepas tanggung jawabnya dan menuntut istrinya juga harus bekerja full time lagi. Jadi jangan salahkan anak kalau akhirnya mereka punya banyak waktu untuk berkenalan dengan dunia narkoba maupun free sex, karena mereka telah kehilangan sosok ibu.”
Sejenak aku menghela napas. ”Pernahkah kamu berpikir ada seorang anak SMA merasa pusing jika tidak melakukan free sex? Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?”
Sejurus kemudian kami sama-sama terdiam. Seolah sebuah gunung es yang menjulang membentang di depan mata.
Kulihat Anita mereguk air jeruk hangat yang tinggal separuh gelas. Berusaha mencairkan kebekuan yang perlahan hinggap memasung jiwanya.
”Ya, kurasa gagasan itu tidak ideal untuk masa sekarang. Kita nggak bisa menutup mata, banyak masyarakat dengan penghasilan yang nggak memadai. Nggak ada pilihan lain kecuali suami istri memprioritaskan sama-sama bekerja jika ingin tetap hidup.”
”Inilah yang kumaksudkan kita telah terjebak. Kita terperangkap pada orientasi materi peradaban kapitalis. Mengejar kesuksesan duniawi semu dengan mengesampingkan efeknya. Kita mungkin berhasil diapresiasi dunia karena menjadi negara yang paling demokratis tapi semua itu ternyata tidak berkontribusi menyelesaikan krisis multidimensi negeri ini. Lihatlah, bukankah angka pengangguran makin meningkat, penduduk miskin makin menjamur, harga BBM makin menjulang, tindakan berbau pornografi-pornoaksi kian menggila, dan segudang permasalahan lain. Lalu apa artinya medali demokrasi itu?”
Kali ini Anita tidak menyanggah lagi. Pandangan kami sama-sama menerawang jauh. Menembus batasan yang tidak bertepi. Mencoba mencari satu titik temu yang terbungkus dalam kebenaran sejati. Setidaknya itulah yang kutangkap dari kejujuran Anita dan mungkin bagi siapa saja yang mau menilai dengan obyektif terhadap apa yang terjadi saat ini.
&&&
Kamu harus tahu dirimu siapa. Perlu belajar banyak. Ingat jam terbangmu belumlah cukup, jadi nggak perlu ngoyo.
Teror itu belum berakhir. Dan bagiku the show must go on! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku punya Allah yang menguasai semua kebenaran dan menjadi pelindung para pembela kebenaran. Sedangkan mereka siapa? Mereka sama sepertiku. Manusia juga. Punya Tuhan. Bedanya, mereka bertuhan dengan memuja lembaran-lembaran dolar. Mengaku membela hak-hak wanita tapi sejatinya malah menjerumuskannya hanya karena iming-iming dolar dari tuannya.
Inilah yang akan terus kusuarakan. Karena para wanita juga berhak tahu kebenaran. Dan tak semua wanita bisa dibeli dengan dolar untuk sebuah propaganda keji. Sekalipun mungkin teror akan terus berlanjut dan berlanjut. Tapi tetap saja, ’the show must go on’ untuk sebuah kebenaran.***
Gerah sekali rasanya. Pesan tadi sungguh membuat merah telingaku. Gigiku spontan bergemeretak menahan amarah yang hampir saja meledak. Aku tercenung sejenak hampir tidak mengerti mengapa mereka bisa sampai berpikiran tidak waras seperti itu.
Sayup-sayup lantunan adzan Maghrib berkumandang di kejauhan, mampu sedikit meredam semua itu. Segera kuambil air wudhu, menundukkan segenap emosi sembari bermunajat kehadapan Illahi Rabbi. Semoga pikiran-pikiran negatif yang bergentayangan di dalam benakku segera terhapus dan ternetralisir.
Wajahku tengadah menatap semburat langit senja yang masih tertutup mendung. Gumpalan awan berarak menandakan musim hujan belumlah berakhir.
Kubuka kembali file presentasi makalahku yang tersimpan dalam memori laptopku. ’Jebakan Gender dalam Politik Demokrasi’, judul makalah inilah yang telah membuat gusar mereka. Makalah tersebut kupresentasikan seminggu lalu dalam diskusi publik temu aktivis wanita di kampus. Animo peserta sangat luar biasa mengapresiasikannya. Forum terbelah menjadi dua kubu. Pro-kontra mewarnai jalannya diskusi.
Bagi sebagian kalangan mungkin tema yang kuangkat tidaklah populer. Dan bahkan cenderung melawan arus. Di saat mereka menyuarakan quota 30% bagi wanita di parlemen, aku justru sebaliknya. Demikian pula ketika mereka dengan semangat mengajak kaum wanita berbondong-bondong ke ranah publik untuk mengais rupiah, aku malah dengan keukeuh mempertahankan fitrah wanita untuk mengoptimalkan perannya di ranah domestik sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga) dan juga madrasatul ’ula (pendidik pertama dan utama) bagi buah hati generasi masa depan.
Siapa bilang agama yang dibawa Rasulullah memenjarakan wanita dan menjadikan wanita terdiskriminasi? Dengan gamblang kujelaskan, setiap muslimah adalah politikus intelektual. Mereka bergelut di ranah publik dalam rangka mencerdaskan umat, mendidik umat menjadi hamba Allah yang taat pada hukum-hukum-Nya di segenap aspek kehidupan. Inilah politik sejati nan mulia yang diajarkan Rasulullah!
Ah... sekali lagi aku tak habis pikir. Kenapa mereka terus menerorku. Bukankah ini negeri demokrasi? Bukankah dunia juga telah mengakuinya dengan menyematkan medali demokrasi buat negeri yang katanya zamrud katulistiwa ini? Ah... untuk yang kesekian kalinya aku menghela napas. Di mana bagian dari kebebasan berpendapat yang mereka teriakkan itu?
Masih lekat dalam ingatanku, ketika usai acara mereka menghadiahkan sebuah buku berjudul ’Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual’. Astaghfirullah...aku hanya bisa menghela napas panjang lagi. Inikah yang terjadi di negeri yang mengaku religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran itu? Ya, mungkin aku harus mengulanginya sekali lagi, karena ini adalah negeri demokrasi!
&&&
Hari masih pagi, rintik-rintik hujan sudah membasahi bumi kembali. Beruntung rumahku masih bebas banjir, mengingat minggu-minggu terakhir ini beberapa wilayah di tanah air telah tenggelam di terjang banjir. Kemacetan panjang akibat banjir pun tak terelakkan lagi. Tidak hanya itu, beberapa fasilitas umum seperti lampu penerangan, air PAM, dan saluran telepon di daerahku juga sempat mengalami gangguan akibat banjir.
Di salah satu selasar yang menghubungkan fakultasku dengan fakultas teknik, seorang wanita muda dengan stelan merah hati tampak sedang berdiri di pojok gedung. Pasti itu Anita tebakku. Dia seorang penulis, salah satu peserta yang hadir dalam acara minggu lalu.
”Anita kan?” tanyaku memastikan.
Sebuah senyuman terkulum manis menebarkan aura kecantikannya.
”Masih ingat, ya? Nggak kena macet?” sapanya ramah.
Aku menggeleng. ”Berangkat pagi bareng ayam jago kukuruyuk...,” lanjutku.
Kami berdua tertawa kecil. Nuansa keakraban mengalir di antara kami padahal kami baru saja saling kenal.
”Ada jam kuliah?” tanyanya mencari kepastian.
”Nanti jam terakhir, kita punya banyak waktu,” jelasku meyakinkan. ”Sudah sarapan?”
Anita kembali tersenyum. ”Sepotong roti pake selai strawberry, nggak sempat yang lain.”
”Bagaimana kalau sarapannya dilanjutkan di kantin saja sambil ngobrol?” tawarku.
”Boleh.”
&&&
Suasana di kantin tidak seramai biasanya. Mungkin musim hujan dan juga ancaman banjir yang bisa datang sewaktu-waktu membuat sebagian mahasiswa absen kuliah. Akibatnya, kantin pun kena imbasnya.
”Pesan apa?” tanyaku sambil mencari ide menu makan yang mungkin bisa menjadi alternatif pilihanku.
”Em...nasi goreng spesial.”
”Minumnya?”
”Jeruk hangat. Kamu sendiri pesan apa?” tanya Anita sambil menatapku.
”Sama saja, deh.”
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit pesanan kami akhirnya datang juga.
”Sambil makan, kita lanjutkan ya diskusi kita?” ajak Anita mencoba memulai pembicaraan lebih serius.
”OK.”
”Terus terang aku penasaran dengan semua yang kamu paparkan dalam makalah itu. Sebuah gagasan yang nggak lazim di jaman seperti ini. Sebenarnya siapa sih yang menginspirasi kamu?” tanya Anita dengan tak sabar. Ada sebuah rasa penasaran yang mencuat dari nada bicaranya.
Aku terdiam sesaat. Kulahap habis nasi goreng di hadapanku.
”Rasulullah dan para shahabiyah, maksudku sahabat wanita di jaman Rasul,” jawabku singkat.
Kulihat Anita mengernyitkan dahinya.
”Terdengar aneh?” Aku balik bertanya.
”Bukankah itu sudah terjadi di jaman lampau? Sekarang semua sudah berubah, kita sudah berada dalam dunia modernitas,” tandasnya.
”Apanya yang berubah? Modern yang seperti apa? Kalau teknologi sih iya. Dulu jamannya Rasul nggak ada komputer, nggak ada pesawat, bisanya naik onta. Sekarang semua fasilitas serba komplit. Tapi untuk kejahatan moral dan rusaknya peradaban kan sama?!”
”Maksudmu?” tanyanya semakin tidak mengerti.
”Dulu peradaban jahiliyah banyak bayi wanita yang dibunuh, free sex merajalela, pecandu miras banyak, homoseks juga ada. Sama kan dengan sekarang? Bahkan lebih parah lagi. Bayi yang dibunuh tidak sekedar berkelamin wanita tapi juga pria. Aborsi begitu kan?” ungkapku. ”Homoseks pun sekarang mulai mewabah. Padahal hewan saja nggak ada kan yang sampai begitu? Mana ada hewan yang kawin sejenis?!” lanjutku menimpali.
”Ya, bisa jadi. Tapi bagaimana dengan diskriminasi itu? Bukankah ini yang memandulkan kreativitas kaum wanita?” kembali Anita melontarkan sederet pertanyaan padaku.
”Apa memaksimalkan peran sebagai ibu, mendidik anak, mengurus rumah tangga dikatakan diskriminasi? Bukankah kaum wanita juga berhak mengecap pendidikan yang setara dengan kaum pria? Kalau kesetaraan yang dimaksud meliputi seluruh aspek dan harus sama persis, it’s impossible. Ada peran masing-masing antara pria dan wanita yang nggak bisa disubstitusikan. Hamil, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak adalah peran khusus buat wanita. Nggak bisa digantikan oleh pria,” imbuhku.
”Nah, inilah yang menyebabkan wanita tergantung pada pria,” ulas Anita.
”Secara finansial? Ya karena itu sudah kewajiban suami menafkahi istri.”
”Nggak semua suami berpemikiran demikian. Coba kamu bayangkan saja jika istri tidak mandiri secara finansial, pasti suami bisa seenaknya. Faktanya demikian kan?”
”Ketika istri dan suami tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing, wajar itu semua terjadi. Seperti sekarang ini. Banyak suami melepas tanggung jawabnya dan menuntut istrinya juga harus bekerja full time lagi. Jadi jangan salahkan anak kalau akhirnya mereka punya banyak waktu untuk berkenalan dengan dunia narkoba maupun free sex, karena mereka telah kehilangan sosok ibu.”
Sejenak aku menghela napas. ”Pernahkah kamu berpikir ada seorang anak SMA merasa pusing jika tidak melakukan free sex? Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?”
Sejurus kemudian kami sama-sama terdiam. Seolah sebuah gunung es yang menjulang membentang di depan mata.
Kulihat Anita mereguk air jeruk hangat yang tinggal separuh gelas. Berusaha mencairkan kebekuan yang perlahan hinggap memasung jiwanya.
”Ya, kurasa gagasan itu tidak ideal untuk masa sekarang. Kita nggak bisa menutup mata, banyak masyarakat dengan penghasilan yang nggak memadai. Nggak ada pilihan lain kecuali suami istri memprioritaskan sama-sama bekerja jika ingin tetap hidup.”
”Inilah yang kumaksudkan kita telah terjebak. Kita terperangkap pada orientasi materi peradaban kapitalis. Mengejar kesuksesan duniawi semu dengan mengesampingkan efeknya. Kita mungkin berhasil diapresiasi dunia karena menjadi negara yang paling demokratis tapi semua itu ternyata tidak berkontribusi menyelesaikan krisis multidimensi negeri ini. Lihatlah, bukankah angka pengangguran makin meningkat, penduduk miskin makin menjamur, harga BBM makin menjulang, tindakan berbau pornografi-pornoaksi kian menggila, dan segudang permasalahan lain. Lalu apa artinya medali demokrasi itu?”
Kali ini Anita tidak menyanggah lagi. Pandangan kami sama-sama menerawang jauh. Menembus batasan yang tidak bertepi. Mencoba mencari satu titik temu yang terbungkus dalam kebenaran sejati. Setidaknya itulah yang kutangkap dari kejujuran Anita dan mungkin bagi siapa saja yang mau menilai dengan obyektif terhadap apa yang terjadi saat ini.
&&&
Kamu harus tahu dirimu siapa. Perlu belajar banyak. Ingat jam terbangmu belumlah cukup, jadi nggak perlu ngoyo.
Teror itu belum berakhir. Dan bagiku the show must go on! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku punya Allah yang menguasai semua kebenaran dan menjadi pelindung para pembela kebenaran. Sedangkan mereka siapa? Mereka sama sepertiku. Manusia juga. Punya Tuhan. Bedanya, mereka bertuhan dengan memuja lembaran-lembaran dolar. Mengaku membela hak-hak wanita tapi sejatinya malah menjerumuskannya hanya karena iming-iming dolar dari tuannya.
Inilah yang akan terus kusuarakan. Karena para wanita juga berhak tahu kebenaran. Dan tak semua wanita bisa dibeli dengan dolar untuk sebuah propaganda keji. Sekalipun mungkin teror akan terus berlanjut dan berlanjut. Tapi tetap saja, ’the show must go on’ untuk sebuah kebenaran.***
Langganan:
Postingan (Atom)