Andromedia, Masmedia Buana Pustaka (2010)
Senin, 10 Juni 2013
Senin, 30 November 2009
Kondomisasi Menghancurkan Generasi
Setiap tanggal 1 Desember hampir setiap elemen masyarakat kembali disibukkan oleh peringatan Hari AIDS se-dunia. Berbagai iklan di media massa pun digeber untuk menyukseskan acara tersebut. Seolah sebuah fenomena gunung es, sekalipun setiap tahun berbagai peringatan digelar termasuk kampanye kondomisasi yang telah dicanangkan BKKBN sejak tahun 2007 itu, upaya tersebut dinilai belum cukup efektif untuk menghambat laju penyebaran virus HIV/AIDS di tanah air. Terbukti angka pengidap virus HIV/AIDS mengalami kenaikan secara signifikan. Tahun ini saja tingkat ODHA sudah mencapai angka 16.964 orang, 854 orang di antaranya adalah kasus baru terhitung dari Januari 2009 sampai Maret 2009. Tentu saja angka ini baru yang tercatat.
Menurut Komnas AIDS, sampai bulan Maret 2009 diperkirakan masih terdapat sekitar 85% dari kasus ODHA yang belum terdeteksi.Yang tidak kalah mencengangkan lagi, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan per September 2008, 54% dari 15.210 ODHA yang ada di tanah air adalah kalangan remaja. Angka tersebut jelas cukup memprihatinkan berbagai pihak. Remaja yang terkategori usia produktif eksistensinya telah terancam oleh virus yang mematikan itu.
Kondomisasi Sebuah Ilusi
Selama ini kondomisasi dianggap sebagai senjata pamungkas untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Alih-alih menurunkan laju penyebaran virus HIV/AIDS, justru kondomisasi ikut andil dalam meningkatkan penyebaran virus penyebar maut tersebut. Wajar saja hal itu terjadi, sebab sejatinya kondomisasi tidak pernah menyentuh akar permasalahan merebaknya virus HIV/AIDS. Bahkan bisa dikatakan kondomisasi adalah kebohongan publik yang terselubung. Berikut ini beberapa data yang berhasil dirangkum oleh Prof. Dr. Dadang Hawari dari berbagai sumber:
1. Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan.”
2. Penelitian Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA: “Virus HIV dapat menembus kondom”.
3. Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): “Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom”.
4. V. Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.”
5. Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): “Tingkat kegagalan kondom dalam KB mencapai 20%. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk KB dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan, besarnya sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Artinya, kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20%, apalagi untuk program HIV/AIDS; tentu akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya”.
Kondomisasi memang sekedar menebarkan ilusi. Lebih jauh lagi semakin menjerumuskan manusia menuju seks bebas. Termasuk di dalamnya remaja yang juga ditargetkan mendapatkan sosialisasi kondomisasi berkedok Kesehatan Reproduksi Remaja (Kespro). Kondomisasi pun dilengkapi dengan fasilitas ATM Kondom di beberapa kota besar. Akibatnya semua kalangan bisa dengan mudah mendapatkan kondom dengan harga yang cukup terjangkau. Jika hal ini diteruskan, sama saja kran kehidupan bebas dibuka selebar-lebarnya. Siapapun, termasuk remaja, diberikan kesempatan seluas-luasnya melakukan hubungan seks asalkan aman (baca: menggunakan kondom). Walhasil degradasi peradaban manusia sudah ada di ambang mata. Nilai-nilai reliji pun bahkan secara terang-terangan kian dicampakkan. Puncaknya, kehidupan ala binatang yang semula ditabukan seiring waktu justru diadopsi tanpa malu-malu lagi!
Hal senada diungkapkan pula oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998). Wajar jika kemudian pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12/11/1995).
Kondomisasi memang menjadi ilusi yang sengaja ditebarkan kaum sekuler, para pemuja HAM dan penganut liberalisme untuk mempertahankan kehidupan bebasnya serta melindungi bisnis pornografi dan pornoaksinya di negeri yang telah menjadi surga pornografi-pornoaksi terbesar ke dua setelah Rusia ini.
Menemukan Solusi Hakiki
Merebaknya virus HIV/AIDS memang sangat berkorelasi dengan tumbuh suburnya pergaulan bebas. Hal inilah yang selama ini tidak tersentuh bahkan justru dilegalkan melalui lokalisasi. Selama praktik-praktik semacam itu tetap diberlakukan maka laju peningkatan HIV/AIDS akan semakin tak terkendali. Artinya, segala bentuk perilaku seks bebas memang harus dihapuskan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sistim yang menerapkan sangksi tegas bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh dalam Islam menerapkan sistim rajam bagi pezina mu’shon (pelaku yang sudah menikah) dan jilid bagi ghairu mu’shon (pelaku yang belum menikah). Dengan sangsi yang tegas akan membuat siapapun jera dan berpikir ulang untuk melakukan tindakan serupa. Sayangnya, para pegiat HAM, penganut liberalisme dan sekulerisme selalu menjegal upaya penerapan tersebut dengan alasan tidak manusiawi. Padahal solusi ini sangat manusiawi dibandingkan membagikan kondom secara bebas dan membiarkan praktik perzinahan merajalela, yang oleh agama mana pun itu diharamkan.
Selain itu para pemakai narkoba dan pelaku bisnisnya juga harus mendapatkan sangsi yang cukup berat. Aparat penegak hukum berkewajiban memutuskan mata rantai peredarannya tanpa tebang pilih. Sebab tidak bisa dipungkiri jika narkoba juga menjadi sarana efektif penyebaran virus HIV/AIDS.
Itulah langkah-langkah praktis dan cukup manusiawi untuk menyelamatkan generasi dari kehancuran []
Menurut Komnas AIDS, sampai bulan Maret 2009 diperkirakan masih terdapat sekitar 85% dari kasus ODHA yang belum terdeteksi.Yang tidak kalah mencengangkan lagi, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan per September 2008, 54% dari 15.210 ODHA yang ada di tanah air adalah kalangan remaja. Angka tersebut jelas cukup memprihatinkan berbagai pihak. Remaja yang terkategori usia produktif eksistensinya telah terancam oleh virus yang mematikan itu.
Kondomisasi Sebuah Ilusi
Selama ini kondomisasi dianggap sebagai senjata pamungkas untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Alih-alih menurunkan laju penyebaran virus HIV/AIDS, justru kondomisasi ikut andil dalam meningkatkan penyebaran virus penyebar maut tersebut. Wajar saja hal itu terjadi, sebab sejatinya kondomisasi tidak pernah menyentuh akar permasalahan merebaknya virus HIV/AIDS. Bahkan bisa dikatakan kondomisasi adalah kebohongan publik yang terselubung. Berikut ini beberapa data yang berhasil dirangkum oleh Prof. Dr. Dadang Hawari dari berbagai sumber:
1. Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan.”
2. Penelitian Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA: “Virus HIV dapat menembus kondom”.
3. Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): “Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom”.
4. V. Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.”
5. Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): “Tingkat kegagalan kondom dalam KB mencapai 20%. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk KB dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan, besarnya sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Artinya, kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20%, apalagi untuk program HIV/AIDS; tentu akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya”.
Kondomisasi memang sekedar menebarkan ilusi. Lebih jauh lagi semakin menjerumuskan manusia menuju seks bebas. Termasuk di dalamnya remaja yang juga ditargetkan mendapatkan sosialisasi kondomisasi berkedok Kesehatan Reproduksi Remaja (Kespro). Kondomisasi pun dilengkapi dengan fasilitas ATM Kondom di beberapa kota besar. Akibatnya semua kalangan bisa dengan mudah mendapatkan kondom dengan harga yang cukup terjangkau. Jika hal ini diteruskan, sama saja kran kehidupan bebas dibuka selebar-lebarnya. Siapapun, termasuk remaja, diberikan kesempatan seluas-luasnya melakukan hubungan seks asalkan aman (baca: menggunakan kondom). Walhasil degradasi peradaban manusia sudah ada di ambang mata. Nilai-nilai reliji pun bahkan secara terang-terangan kian dicampakkan. Puncaknya, kehidupan ala binatang yang semula ditabukan seiring waktu justru diadopsi tanpa malu-malu lagi!
Hal senada diungkapkan pula oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998). Wajar jika kemudian pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12/11/1995).
Kondomisasi memang menjadi ilusi yang sengaja ditebarkan kaum sekuler, para pemuja HAM dan penganut liberalisme untuk mempertahankan kehidupan bebasnya serta melindungi bisnis pornografi dan pornoaksinya di negeri yang telah menjadi surga pornografi-pornoaksi terbesar ke dua setelah Rusia ini.
Menemukan Solusi Hakiki
Merebaknya virus HIV/AIDS memang sangat berkorelasi dengan tumbuh suburnya pergaulan bebas. Hal inilah yang selama ini tidak tersentuh bahkan justru dilegalkan melalui lokalisasi. Selama praktik-praktik semacam itu tetap diberlakukan maka laju peningkatan HIV/AIDS akan semakin tak terkendali. Artinya, segala bentuk perilaku seks bebas memang harus dihapuskan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sistim yang menerapkan sangksi tegas bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh dalam Islam menerapkan sistim rajam bagi pezina mu’shon (pelaku yang sudah menikah) dan jilid bagi ghairu mu’shon (pelaku yang belum menikah). Dengan sangsi yang tegas akan membuat siapapun jera dan berpikir ulang untuk melakukan tindakan serupa. Sayangnya, para pegiat HAM, penganut liberalisme dan sekulerisme selalu menjegal upaya penerapan tersebut dengan alasan tidak manusiawi. Padahal solusi ini sangat manusiawi dibandingkan membagikan kondom secara bebas dan membiarkan praktik perzinahan merajalela, yang oleh agama mana pun itu diharamkan.
Selain itu para pemakai narkoba dan pelaku bisnisnya juga harus mendapatkan sangsi yang cukup berat. Aparat penegak hukum berkewajiban memutuskan mata rantai peredarannya tanpa tebang pilih. Sebab tidak bisa dipungkiri jika narkoba juga menjadi sarana efektif penyebaran virus HIV/AIDS.
Itulah langkah-langkah praktis dan cukup manusiawi untuk menyelamatkan generasi dari kehancuran []
Kamis, 05 November 2009
BEBASKAN AL-QUDS DAN PALESTINA DENGAN KHILAFAH DAN JIHAD!
Untuk kesekian kalinya, umat Islam sedunia menyaksikan tindakan biadab bangsa Yahudi laknatullah di Tanah al-Haram (Al-Aqsha-Palestina), bumi Isra’ Mi’raj Baginda Rasulullah Muhammad saw. Yahudi memprovokasi kaum Muslim di Masjid al-Aqsa pagi dan petang; kadang-kadang dengan menggali bagian di bawah masjid; dengan merusak bagian atasnya; dengan mempersulit orang-orang yang melaksanakan shalat; atau dengan mempraktikkan ritual-ritual mereka. Jika kaum Muslim menghadang mereka maka orang-orang Yahudi itu menembaki kaum Muslim hingga ada yang terbunuh atau terluka, juga ada yang ditangkap.
Selama bulan Oktober 2009 saja, sedikitnya tujuh orang Palestina terluka akibat tindakan brutal tentara Zionis Israel di pintu masuk Masjid Al-Aqsha, Ahad (27/9) lalu. Kantor berita Palestina WAFA melaporkan, polisi Zionis pagi-pagi melakukan serangan di kompleks Masjid Al-Aqsha dari pintu masuk Babul Mugharabah. Dalam aksi tersebut, polisi Zionis menembakkan peluru-peluru plastik dan meledakkan bom molotov. Sebelum melancarkan serangan tersebut, polisi Israel menutup pintu-pintu lain di Masjid Al-Aqsha sehingga mereka dapat dengan mudah menyerang para jamaah shalat Palestina.
Dilaporkan pula, beberapa kendaraan militer Israel sudah memasuki Kota Beit Lahya, sementara pesawat-pesawat tempur melakukan patroli udara. Jumat (25/9) malam militer Zionis melancarkan serangan udara ke utara Gaza. Tiga anggota kelompok perjuangan Jihad Islam dilaporkan syahid akibat serangan tersebut. Serangan itu merupakan pelanggaran nyata Israel atas kesepakatan gencatan senjata. (Sabili.com,12/10).
Dalam bulan Oktober pula pasukan penjajah Zionis juga terus melancarkan operasi penangkapan terhadap lebih dari 330 warga Palestina, termasuk 30 anak yang berusia di bawah 18 tahun. Pusat Solidaritas Internasional untuk HAM, Ahad (1/11), menyatakan, tak terlewatkan sehari pun kecuali terjadi berbagai aksi seperti pembunuhan dan penangkapan terhadap puluhan warga Palestina (Sabili.com,2/11).
Penguasa Muslim Membisu
Sangat menyedihkan, meski keadaannya terus bertambah gawat, para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim diam membisu. Sikap terbaik mereka hanyalah dengan mengizinkan rakyatnya melakukan aksi protes, mengajukan keberatan serta berteriak menentang Yahudi dan begundalnya.
Para penguasa negeri-negeri Islam sibuk “main sinetron” mengikuti arahan “sang sutradara” AS yang licik. Mereka dengan patuhnya merangkak dari sidang ke sidang, dari jamuan ke jamuan, sambil melipat tangan mereka seraya menyaksikan dari waktu ke waktu tindakan biadab Yahudi Israel menumpahkan darah kaum Muslim. Lantas masihkan umat ini akan terus-menerus berdiam diri bersama para penguasa yang buta, tuli dan bisu atas nasib umat dan negeri mereka?
Akar Masalah Palestina
Permasalahan Palestina tidak terlepas dari sejarah masa lalu hingga kemudian Palestina dikuasai oleh kaum kafir. Perang Salib yang dicanangkan negara-negara Kristen Eropa telah menjadikan Palestina sebagai ajang konflik agar daerah Timur Tengah terus bergejolak. Strategi yang digunakan adalah dengan mencangkokkan negara Yahudi di Bumi Palestina. Motor penjajahan tersebut adalah Inggris dan kroni-kroninya, yang sekarang dilanjutkan oleh Amerika sebagai penyokong utama negara Israel. Kesepakatan demi kesepakatan hanyalah tipuan belaka untuk menjaga dan menjamin pendudukan Israel di Tanah Palestina.
Kenyataan terburuk berawal pada 29 November 1947 saat PBB mengumumkan persetujuan berdirinya negara Israel yang didukung penuh AS di atas 55% Tanah Palestina. Persetujuan PBB ini kemudian diikuti dengan deklarasi pendirian negara Israel oleh PM Israel pertama, David Ben-Gurion, yang segera melakukan pengusiran dan pembunuhan lebih besar lagi terhadap kaum Muslim di Palestina.
Setelah Israel berdiri, negara-negara tetangga Palestina (Mesir, Yordan, Libanon dan Suriah) mengumumkan perang terhadap Israel. Perang ini terjadi pada tahun 1948, 1956, 1967 dan 1973. Namun, Perang Arab-Israel ini tidak lebih dari perang sandiwara dan hanya membuat mitos seolah-olah Israel tidak terkalahkan. Perang ini sekaligus menjadi bukti pengkhianatan para pemimpin Muslim itu. Apalagi setelah perang 6 hari di tahun 1967, wilayah Israel bahkan bertambah menjadi 70%. Bahkan hingga hari ini Israel dengan brutal mencaplok wilayah Palestina hingga menguasai lebih dari 90%-nya. Nafsu mereka yang lebih besar adalah membersihkan semua Muslim dan seluruh simbol-simbolnya di kawasan Palestina.
Sikap khianat para penguasa Muslim ini tentu sangat bertolak belakang dengan sikap para khalifah dulu ketika umat ini masih di bawah naungan Khilafah. Meski Khilafah dalam keadaan lemah, Khalifah kaum Muslim saat itu, Khalifah Abdul Hamid II, dengan lantang mengatakan “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik umatku.” (Khalifah Abdul Hamid II, 1897).
Photo Khalifah Abdul Hamid II
Khalifah Abdul Hamid II kemudian mengultimatum Dr. Hertzl dari pihak Yahudi supaya jangan meneruskan rencananya, “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Karena itu, silakan Yahudi menyimpan saja harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Namun, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.” (Khalifah Abdul Hamid II, 1902).
Jadi, masalah sesungguhnya dari krisis Palestina adalah pendudukan Israel di Palestina, tanah milik kaum Muslim; bukan masalah perbatasan Palestina-Israel atau yang semisalnya. Karena itu, hingga kapanpun sesungguhnya Palestina tidak boleh dikuasai apalagi diserahkan kepada bangsa kafir Yahudi atau siapapun.
Khilafah dan Jihad: Solusi Tuntas!
Harus disadari oleh kaum Muslim, pendudukan tanah Palestina oleh Yahudi tidak pernah terwujud, kecuali setelah Khilafah Islam berhasil diruntuhkan. Sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.
Karena itu, masalah Al-Quds dan Palestina ini tidak akan pernah selesai selama Israel tetap bercokol di Bumi Palestina. Karena itu pula, solusinya hanya satu: melenyapkan Israel dari bumi penuh berkah tersebut.
Israel sesungguhnya tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri sebagai sebuah negara. Israel bisa berdiri kokoh karena ditopang oleh Inggris dan AS pada masa awal pendiriannya. Karena itu, untuk melenyapkan Israel dari bumi penuh berkah itu tidak bisa tidak Dunia Islam membutuhkan Khilafah. Sebab, hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Inggris, AS dan sekutunya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim. Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim.
Adapun solusi-solusi lain seperti bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, pedamaian, resolusi DK PBB, KTT Liga Arab maupun pengiriman pasukan perdamaian sesungguhnya bukanlah solusi. Buktinya, meski semuanya itu terus-menerus dilakukan sejak 50 tahun yang lalu hingga kini, toh tidak pernah bisa menyelesaikan masalah Palestina dengan tuntas. Bahkan solusi-solusi tersebut semakin memalingkan kaum Muslim dari solusi Islam yang sesungguhnya, yakni dengan menegakkan kembali Khilafah.
Tak Cukup Hanya dengan Demonstrasi
Dulu pun Palestina pernah diduduki oleh kaum salibis. Mereka membuat kerusakan dan merusak di Masjid al-Aqsa. Namun, kaum Muslim tidak menyibukkan diri hanya dengan melakukan aksi protes dan demonstrasi untuk membebaskan al-Aqsa. Misi mereka siang dan malam adalah menyiapkan pasukan, memobilisasi tentara Mukmin yang benar dengan kepemimpinan Shalahuddin, wali Mesir dan Syam saat itu, di bawah Khilafah yang memerintah berdasarkan al-Quran.
Dulu protes-protes kaum Muslim diwujudkan dengan lompatan-lompatan para tentara mereka terhadap benteng-benteng kaum salibis. Penolakan-penolakan mereka adalah berupa serangan-serangan yang menghantam orang-orang yang melampaui batas itu. Pidato-pidato mereka yang membakar adalah teriakan takbir di medan perang. Mereka brnar-benar menolong Allah sehingga Allah pun menolong mereka. Begitulah kaum Muslim dulu.
Karena itu, sesungguhnya metode membela al-Aqsa adalah umat berdiri di hadapan para penguasa mereka agar para penguasa itu memobilisasi pasukan untuk berperang. Jika mereka menolak maka umat hendaknya menindak mereka sekaligus mengangkat seorang penguasa Mukmin yang benar, yaitu seorang khalifah ar-rasyîd, yang menjual dirinya demi mendapatkan keridhaan Allah, dengan berperang bersama kaum Muslim melawan orang-orang kafir.
Wahai kaum Muslim,
Wahai Para Tentara Mujahid:
Sungguh al-Aqsa dan Palestina meminta pertolongan Anda. Para wanita kaum Muslim menyeru Anda. Apakah Anda tidak menjawab mereka dan mencari salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid, atau bahkan keduanya sekaligus dengan izin Allah? Tidakkah Anda takut akan ancaman Allah SWT:
]إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[
Jika kalian tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih (QS at-Taubah [9]: 39).
Wahai umat Islam,
Wahai Pasukan kaum Muslim:
Tidak adakah di antara Anda sekalian orang yang cerdas, yang mau membebaskan al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslim; yang mau menuntut balas atas apa yang diderita oleh para orang tua, anak-anak yatim dan para wanita Muslim; yang berani berdiri di hadapan para penguasa zalim dan komprador serta melengserkan para thâghût itu sekaligus memimpin para mujahid di jalan Allah?
Tidak adakah di antara Anda seorang cerdas, yang memahami firman Allah SWT tentang Yahudi:
]لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ[
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat kemadaratan terhadap kalian, selain dari gangguan-gangguan celaan saja. Jika mereka berperang melawan kalian, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapat pertolongan (QS Ali Imran [3]: 111)
Karena itu, sambutlah seruan Allah SWT yang telah berfirman:
]قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ[
Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, Allah akan menghinakan mereka dan menolong kalian terhadap mereka serta melegakan hati orang-orang Mukmin (QS at-Taubah [9]: 14)
Sumber :
Buletin Al Islam Hizbut Tahrir Indonesia Edisi 479
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/03/bebaskan-al-quds-dan-palestina-dengan-khilafah-dan-jihad/
Selama bulan Oktober 2009 saja, sedikitnya tujuh orang Palestina terluka akibat tindakan brutal tentara Zionis Israel di pintu masuk Masjid Al-Aqsha, Ahad (27/9) lalu. Kantor berita Palestina WAFA melaporkan, polisi Zionis pagi-pagi melakukan serangan di kompleks Masjid Al-Aqsha dari pintu masuk Babul Mugharabah. Dalam aksi tersebut, polisi Zionis menembakkan peluru-peluru plastik dan meledakkan bom molotov. Sebelum melancarkan serangan tersebut, polisi Israel menutup pintu-pintu lain di Masjid Al-Aqsha sehingga mereka dapat dengan mudah menyerang para jamaah shalat Palestina.
Dilaporkan pula, beberapa kendaraan militer Israel sudah memasuki Kota Beit Lahya, sementara pesawat-pesawat tempur melakukan patroli udara. Jumat (25/9) malam militer Zionis melancarkan serangan udara ke utara Gaza. Tiga anggota kelompok perjuangan Jihad Islam dilaporkan syahid akibat serangan tersebut. Serangan itu merupakan pelanggaran nyata Israel atas kesepakatan gencatan senjata. (Sabili.com,12/10).
Dalam bulan Oktober pula pasukan penjajah Zionis juga terus melancarkan operasi penangkapan terhadap lebih dari 330 warga Palestina, termasuk 30 anak yang berusia di bawah 18 tahun. Pusat Solidaritas Internasional untuk HAM, Ahad (1/11), menyatakan, tak terlewatkan sehari pun kecuali terjadi berbagai aksi seperti pembunuhan dan penangkapan terhadap puluhan warga Palestina (Sabili.com,2/11).
Penguasa Muslim Membisu
Sangat menyedihkan, meski keadaannya terus bertambah gawat, para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim diam membisu. Sikap terbaik mereka hanyalah dengan mengizinkan rakyatnya melakukan aksi protes, mengajukan keberatan serta berteriak menentang Yahudi dan begundalnya.
Para penguasa negeri-negeri Islam sibuk “main sinetron” mengikuti arahan “sang sutradara” AS yang licik. Mereka dengan patuhnya merangkak dari sidang ke sidang, dari jamuan ke jamuan, sambil melipat tangan mereka seraya menyaksikan dari waktu ke waktu tindakan biadab Yahudi Israel menumpahkan darah kaum Muslim. Lantas masihkan umat ini akan terus-menerus berdiam diri bersama para penguasa yang buta, tuli dan bisu atas nasib umat dan negeri mereka?
Akar Masalah Palestina
Permasalahan Palestina tidak terlepas dari sejarah masa lalu hingga kemudian Palestina dikuasai oleh kaum kafir. Perang Salib yang dicanangkan negara-negara Kristen Eropa telah menjadikan Palestina sebagai ajang konflik agar daerah Timur Tengah terus bergejolak. Strategi yang digunakan adalah dengan mencangkokkan negara Yahudi di Bumi Palestina. Motor penjajahan tersebut adalah Inggris dan kroni-kroninya, yang sekarang dilanjutkan oleh Amerika sebagai penyokong utama negara Israel. Kesepakatan demi kesepakatan hanyalah tipuan belaka untuk menjaga dan menjamin pendudukan Israel di Tanah Palestina.
Kenyataan terburuk berawal pada 29 November 1947 saat PBB mengumumkan persetujuan berdirinya negara Israel yang didukung penuh AS di atas 55% Tanah Palestina. Persetujuan PBB ini kemudian diikuti dengan deklarasi pendirian negara Israel oleh PM Israel pertama, David Ben-Gurion, yang segera melakukan pengusiran dan pembunuhan lebih besar lagi terhadap kaum Muslim di Palestina.
Setelah Israel berdiri, negara-negara tetangga Palestina (Mesir, Yordan, Libanon dan Suriah) mengumumkan perang terhadap Israel. Perang ini terjadi pada tahun 1948, 1956, 1967 dan 1973. Namun, Perang Arab-Israel ini tidak lebih dari perang sandiwara dan hanya membuat mitos seolah-olah Israel tidak terkalahkan. Perang ini sekaligus menjadi bukti pengkhianatan para pemimpin Muslim itu. Apalagi setelah perang 6 hari di tahun 1967, wilayah Israel bahkan bertambah menjadi 70%. Bahkan hingga hari ini Israel dengan brutal mencaplok wilayah Palestina hingga menguasai lebih dari 90%-nya. Nafsu mereka yang lebih besar adalah membersihkan semua Muslim dan seluruh simbol-simbolnya di kawasan Palestina.
Sikap khianat para penguasa Muslim ini tentu sangat bertolak belakang dengan sikap para khalifah dulu ketika umat ini masih di bawah naungan Khilafah. Meski Khilafah dalam keadaan lemah, Khalifah kaum Muslim saat itu, Khalifah Abdul Hamid II, dengan lantang mengatakan “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik umatku.” (Khalifah Abdul Hamid II, 1897).
Photo Khalifah Abdul Hamid II
Khalifah Abdul Hamid II kemudian mengultimatum Dr. Hertzl dari pihak Yahudi supaya jangan meneruskan rencananya, “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Karena itu, silakan Yahudi menyimpan saja harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Namun, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.” (Khalifah Abdul Hamid II, 1902).
Jadi, masalah sesungguhnya dari krisis Palestina adalah pendudukan Israel di Palestina, tanah milik kaum Muslim; bukan masalah perbatasan Palestina-Israel atau yang semisalnya. Karena itu, hingga kapanpun sesungguhnya Palestina tidak boleh dikuasai apalagi diserahkan kepada bangsa kafir Yahudi atau siapapun.
Khilafah dan Jihad: Solusi Tuntas!
Harus disadari oleh kaum Muslim, pendudukan tanah Palestina oleh Yahudi tidak pernah terwujud, kecuali setelah Khilafah Islam berhasil diruntuhkan. Sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.
Karena itu, masalah Al-Quds dan Palestina ini tidak akan pernah selesai selama Israel tetap bercokol di Bumi Palestina. Karena itu pula, solusinya hanya satu: melenyapkan Israel dari bumi penuh berkah tersebut.
Israel sesungguhnya tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri sebagai sebuah negara. Israel bisa berdiri kokoh karena ditopang oleh Inggris dan AS pada masa awal pendiriannya. Karena itu, untuk melenyapkan Israel dari bumi penuh berkah itu tidak bisa tidak Dunia Islam membutuhkan Khilafah. Sebab, hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Inggris, AS dan sekutunya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim. Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim.
Adapun solusi-solusi lain seperti bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, pedamaian, resolusi DK PBB, KTT Liga Arab maupun pengiriman pasukan perdamaian sesungguhnya bukanlah solusi. Buktinya, meski semuanya itu terus-menerus dilakukan sejak 50 tahun yang lalu hingga kini, toh tidak pernah bisa menyelesaikan masalah Palestina dengan tuntas. Bahkan solusi-solusi tersebut semakin memalingkan kaum Muslim dari solusi Islam yang sesungguhnya, yakni dengan menegakkan kembali Khilafah.
Tak Cukup Hanya dengan Demonstrasi
Dulu pun Palestina pernah diduduki oleh kaum salibis. Mereka membuat kerusakan dan merusak di Masjid al-Aqsa. Namun, kaum Muslim tidak menyibukkan diri hanya dengan melakukan aksi protes dan demonstrasi untuk membebaskan al-Aqsa. Misi mereka siang dan malam adalah menyiapkan pasukan, memobilisasi tentara Mukmin yang benar dengan kepemimpinan Shalahuddin, wali Mesir dan Syam saat itu, di bawah Khilafah yang memerintah berdasarkan al-Quran.
Dulu protes-protes kaum Muslim diwujudkan dengan lompatan-lompatan para tentara mereka terhadap benteng-benteng kaum salibis. Penolakan-penolakan mereka adalah berupa serangan-serangan yang menghantam orang-orang yang melampaui batas itu. Pidato-pidato mereka yang membakar adalah teriakan takbir di medan perang. Mereka brnar-benar menolong Allah sehingga Allah pun menolong mereka. Begitulah kaum Muslim dulu.
Karena itu, sesungguhnya metode membela al-Aqsa adalah umat berdiri di hadapan para penguasa mereka agar para penguasa itu memobilisasi pasukan untuk berperang. Jika mereka menolak maka umat hendaknya menindak mereka sekaligus mengangkat seorang penguasa Mukmin yang benar, yaitu seorang khalifah ar-rasyîd, yang menjual dirinya demi mendapatkan keridhaan Allah, dengan berperang bersama kaum Muslim melawan orang-orang kafir.
Wahai kaum Muslim,
Wahai Para Tentara Mujahid:
Sungguh al-Aqsa dan Palestina meminta pertolongan Anda. Para wanita kaum Muslim menyeru Anda. Apakah Anda tidak menjawab mereka dan mencari salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid, atau bahkan keduanya sekaligus dengan izin Allah? Tidakkah Anda takut akan ancaman Allah SWT:
]إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[
Jika kalian tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih (QS at-Taubah [9]: 39).
Wahai umat Islam,
Wahai Pasukan kaum Muslim:
Tidak adakah di antara Anda sekalian orang yang cerdas, yang mau membebaskan al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslim; yang mau menuntut balas atas apa yang diderita oleh para orang tua, anak-anak yatim dan para wanita Muslim; yang berani berdiri di hadapan para penguasa zalim dan komprador serta melengserkan para thâghût itu sekaligus memimpin para mujahid di jalan Allah?
Tidak adakah di antara Anda seorang cerdas, yang memahami firman Allah SWT tentang Yahudi:
]لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ[
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat kemadaratan terhadap kalian, selain dari gangguan-gangguan celaan saja. Jika mereka berperang melawan kalian, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapat pertolongan (QS Ali Imran [3]: 111)
Karena itu, sambutlah seruan Allah SWT yang telah berfirman:
]قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ[
Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, Allah akan menghinakan mereka dan menolong kalian terhadap mereka serta melegakan hati orang-orang Mukmin (QS at-Taubah [9]: 14)
Sumber :
Buletin Al Islam Hizbut Tahrir Indonesia Edisi 479
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/03/bebaskan-al-quds-dan-palestina-dengan-khilafah-dan-jihad/
Jumat, 16 Oktober 2009
Ijinkan Aku Menjadi Perempuan

Lely Noormindhawati (diterbitkan PT. Akoer,2009)
Sinopsis
Ia tinggal di sebuah wisma di antara deretan wisma yang berjajar di gang-gang sempit itu. Sudah belasan tahun ia menghabiskan usianya di tempat ini, untuk mengais lembaran rupiah sebagaimana perempuan lain yang tinggal di sini. Bedanya, ia yang paling muda—masih duduk di bangku sekolah—sedangkan mereka, orang bilang sudah profesional.
Begitu adzan Ashar selesai berkumandang, wisma-wisma di gang-gang sempit yang semula lengang itu kini tampak adanya aktivitas. Perempuan-perempuan di dalam wisma tersebut mulai berdandan dan mengenakan gaun-gaun ketat, mempertontonkan detil lekuk tubuhnya. Dulu ia sempat bertanya, ‘mengapa mereka melakukan semua itu?’ Tapi kini ia tak butuh lagi jawaban itu. Karena ia pun melakukan hal yang sama seperti mereka. Demikianlah pemandangan yang ia temukan setiap hari di sini, etalase Dolly, sebuah kawasan prostitusi di kota Metropolis Surabaya yang konon terbesar se-Asia Tenggara.
Tak selamanya materi mampu memberikan kebahagiaan. Itulah yang ia rasakan saat ini. Suara hatinya terus meronta dan mengajaknya keluar meninggalkan lembah kemaksiatan di sini. Meskipun harus menghadapi resiko besar yang siap menghadang kapan pun. Hingga cahaya kebenaran akhirnya mempertemukannya dengan Maryam dan teman-temannya. Dan pintu taubat pun mengantarkannya menuju metamorfose hidup. Sayang, ketika cahaya Illahi itu mulai ia gapai, ia harus berjuang melawan penyakit penebar maut HIV/AIDS. Pertaruhan antara hidup dan mati hampir saja membinasakan seluruh asa yang sempat ia sematkan untuk menggapai kebahagiaan dan cita-cita tertinggi bagi seorang perempuan. Menjadi wanita sholihah, sebaik-baiknya perhiasan hidup ***
Daftar Isi
Bagian 1 : Panggil Namaku Ve
Bagian 2 : Menjadi Layaknya Perempuan
Bagian 3 : Ia Mencari Orang Tuanya
Bagian 4 : Ia Kabur
Bagian 5 : Lelaki Itu Mencintainya
Bagian 6 : Bertemu Teman-teman Baru
Bagian 7 : Metamorfose
Bagian 8 : Rencana Baru
Bagian 9 : Ia Harus Memilih
Bagian 10 : Bersama Keluarga Baru
Bagian 11 : Awal dari Bencana
Bagian 12 : Penyakit Penebar Maut
Bagian 13 : Menjalani Karantina
Bagian 14 : Puisi-Puisi
Bagian 15 : Menyingkap Tabir Kebohongan
Bagian 16 : Ketika Maut Menjemput
"Ikuti detail kisahnya di novel terbaru karyaku dan dapatkan di Gramedia ato Gunung Agung di kota Anda!!!"
Sinetron HIV-- Sebuah Kritik
Dimuat di Rubrik Suarapublika, Harian Republika (29 Juli 2006)
Tayangan sinetron HIV yang salah satunya dibintangi aktor ternama Gunawan di Trans TV ini sangat menarik untuk dicermati. Sayang penayangan sinetron tersebut tergolong berani karena idenya sangat berlawanan dengan mainstream masyarakat kita yang religius. Secara tersirat, sinetron ini membawa pesan bagi kita semua bahwa penderita HIV adalah manusia biasa sebagaimana kita. Mereka layak hidup normal dan berhak mendapatkan ruang gerak di setiap lini kehidupan.
Ini sangat berbahaya bila dibiarkan. Mengapa? Kita akan dibawa pada satu pola pikir humanisme dan moralitas semata tanpa kita memikirkan aspek lain. Sebab, faktor utama terinfeksinya seseorang sehingga akhirnya positif mengidap virus HIV tidak lain disebabkan oleh gaya hidup free sex.
Sayangnya sinetron ini sengaja mengaburkan penyebab utama HIV tersebut. Atau memang sengaja ingin melanggengkan free sex? Jika memang demikian, kita harus waspada. Pemerintah sudah seharusnya menyetop semua ruang yang bisa menyuburkan benih free sex. Jika tidak, selain penderita HIV semakin menjamur, negeri kita juga akan semakin tidak bermartabat karena sebagai negeri yang religius secara tidak langsung telah melegalkan gaya hidup ala binatang.
Tayangan sinetron HIV yang salah satunya dibintangi aktor ternama Gunawan di Trans TV ini sangat menarik untuk dicermati. Sayang penayangan sinetron tersebut tergolong berani karena idenya sangat berlawanan dengan mainstream masyarakat kita yang religius. Secara tersirat, sinetron ini membawa pesan bagi kita semua bahwa penderita HIV adalah manusia biasa sebagaimana kita. Mereka layak hidup normal dan berhak mendapatkan ruang gerak di setiap lini kehidupan.
Ini sangat berbahaya bila dibiarkan. Mengapa? Kita akan dibawa pada satu pola pikir humanisme dan moralitas semata tanpa kita memikirkan aspek lain. Sebab, faktor utama terinfeksinya seseorang sehingga akhirnya positif mengidap virus HIV tidak lain disebabkan oleh gaya hidup free sex.
Sayangnya sinetron ini sengaja mengaburkan penyebab utama HIV tersebut. Atau memang sengaja ingin melanggengkan free sex? Jika memang demikian, kita harus waspada. Pemerintah sudah seharusnya menyetop semua ruang yang bisa menyuburkan benih free sex. Jika tidak, selain penderita HIV semakin menjamur, negeri kita juga akan semakin tidak bermartabat karena sebagai negeri yang religius secara tidak langsung telah melegalkan gaya hidup ala binatang.
Kehancuran Zionis Segera Tiba!
Dimuat di Rubrik Suarapublika,Harian Republika (9 Agustus 2006)
Kini tak ada lagi yang mampu menutupi bau busuk yang ditebarkan oleh Israel-AS. Agresi Zionis Israel ke Jalur Gaza dan Lebanon serta sikap diamnya AS akan hal itu, adalah bukti nyata siapa sejatinya yang layak menyandang predikat the real terrorist.
Dunia internasional seharusnya sadar, stigma teroris terhadap umat Islam pada hakikatnya adalah kejahatan terorganisir untuk melenyapkan entitas kaum Muslimin dari muka bumi. Dan setelah isu terorisme 'gagal' memberangus kaum Muslimin, kini mereka tanpa malu-malu dan secara terang-terangan langsung membombardir komunitas Muslim di jantung kota Lebanon dan Jalur Gaza. Wahai Zionis Israel, tunggulah kehancuran kalian. Sebentar lagi Allah SWT akan mengirim elite pasukan kaum Muslimin di bawah komando Khilafah Islamiyah untuk membinasakan kalian!
Kini tak ada lagi yang mampu menutupi bau busuk yang ditebarkan oleh Israel-AS. Agresi Zionis Israel ke Jalur Gaza dan Lebanon serta sikap diamnya AS akan hal itu, adalah bukti nyata siapa sejatinya yang layak menyandang predikat the real terrorist.
Dunia internasional seharusnya sadar, stigma teroris terhadap umat Islam pada hakikatnya adalah kejahatan terorganisir untuk melenyapkan entitas kaum Muslimin dari muka bumi. Dan setelah isu terorisme 'gagal' memberangus kaum Muslimin, kini mereka tanpa malu-malu dan secara terang-terangan langsung membombardir komunitas Muslim di jantung kota Lebanon dan Jalur Gaza. Wahai Zionis Israel, tunggulah kehancuran kalian. Sebentar lagi Allah SWT akan mengirim elite pasukan kaum Muslimin di bawah komando Khilafah Islamiyah untuk membinasakan kalian!
Di Atas Laju Gerbong Kereta Api Ekonomi ...
“Pertama kalinya Anita naik kereta api kelas ekonomi”
Rona kegembiraan terpancar jelas dari wajah manis Anita. Ia baru saja melepaskan status dirinya sebagai anak SMP. Dan kini Anita resmi menyandang predikat pelajar SMU, mengenakan seragam baru kebanggaannya—putih abu-abu.
Usai kelulusan Anita langsung mendaftarkan diri ke sebuah SMU favorit di kota. Beruntung Dewi Fortuna berada di pihaknya. Ia bisa lulus seleksi dan diterima di sana. Bahkan ia harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya saat memutuskan pilihan, tinggal di rumah kos dekat sekolahnya. Jarak yang cukup jauh antara rumah dengan sekolah barunya tidak memungkinkan Anita menempuh perjalanan pulang pergi setiap hari. Apalagi usai sekolah ia mengikuti les pelajaran di sebuah bimbingan belajar. Bisa dibayangkan jika ia tetap ngotot dan tidak menuruti saran papa mamanya, pastilah waktunya habis di perjalanan. Waktu istirahat pun jelas ikut tersita.
Kini Masa Orientasi Sekolah (MOS) baru saja berakhir. Anita bisa tersenyum lega. Setidaknya ia tidak lagi mendengar teriakan-teriakan arogan Kakak-Kakak Kedisiplinan yang acap kali memberikan sangsi kepada peserta MOS. Ia juga tidak perlu lagi mengenakan atribut-atribut yang cukup memuakkan untuk dilihat. Setiap hari ke sekolah memakai ‘seragam kebesaran’: tas plastik, topi kardus, rambut kuncir dua berponi, dan kalung rafia berbandul namanya dalam ukuran besar. Mengingat semua itu membuat Anita tersiksa. Harapannya tentu bisa segera mengenakan baju seragam putih abu-abu kebanggaannya, bukan malah berdandan ala sekolah bebek. Ia hanya bisa tersenyum nyegir mengenang masa-masa tersebut. Dalam benaknya masih melekat kuat saat ia terkena hukuman. Waktu itu dirinya tidak mampu menjalankan tugas dari salah satu Kakak Kedisiplinan, makan kerupuk bundar besar dalam tempo satu menit. Saat waktu habis justru Anita tersendak-sendak dan kerupuknya masih tersisa hampir separuh. Kakak-Kakak Kedisiplinan yang berjumlah delapan orang langsung mengerjai Anita. Ia disuruh keliling barisan sambil mengucapkan, “Aku anak mama, makan minta disuapin.” Ughh… Kesal sekali dan sekaligus membuatnya malu tiada terperi. Wajahnya sempat memerah menyerupai kepiting rebus, menahan air mata yang sudah hampir tak terbendung lagi.
Anita menutup diarynya. Ia telah puas menumpahkan perasaannya selama sepekan ini melalui goresan penanya. Minggu pagi ini ia sengaja tidak pulang ke rumah. Anita telah merencanakan pergi merayakan ulang tahun sepupunya yang berada di luar kota. Siang nanti akan diadakan pesta kecil-kecilan di sana.
“Nita, kamu serius berangkat sendiri?” tanya ibu kos setengah tak percaya.
Ibu kos menatap Anita penuh keraguan. Wanita itu tahu betul sosok Anita yang masih manja dan kekanak-kanakan. Diam-diam ia tidak tega membiarkan Anita berangkat naik kereta api sendirian. Apalagi menurut pengakuan Anita, dirinya belum pernah sama sekali naik kereta api.
“Nggak masalah kok, Bu. Nanti dijemput paman di stasiun,” jawab Anita mencoba meyakinkan keraguan wanita yang berdiri di depannya itu.
“Baiklah, yang penting kamu berhati-hati,” pesan ibu kos.
“Ya, Bu,” jawab Anita sambil tersenyum.
“Kamu naik kereta jam berapa?”
“Jam delapan, Bu. Sebentar lagi saya berangkat, biar nggak telat.”
“Pulangnya jam berapa dari sana?”
“Insya Allah jam tiga sore, Bu. Mungkin pulangnya naik bis karena jadwal kereta ke sini adanya malam.”
“Baiklah. Anita kamu hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana.”
Masih dengan kecemasan wanita itu melepas kepergian Anita. Akhirnya Anita berangkat menuju stasiun setelah berpamitan dengan ibu kosnya. Beruntung jarak rumah kosnya dekat dengan stasiun. Dengan berjalan kaki, ia hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit agar bisa sampai di sana.
Anita melirik arloji di lengan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 8.40. Ia segera mempercepat langkah kakinya. Matahari mulai nampak beranjak naik dari posisinya semula. Terik panasnya pun terasa semakin menyengat kulit. Anita mengeluarkan selembar kertas tisu dari balik sakunya. Ia perlahan menyeka butiran keringat tersebut yang kini mulai menetes.
Sesampai di sebuah perempatan jalan, ia sejenak menghentikan langkahnya. Lalu lalang kendaraan yang mulai padat tidak memungkinkannya menyeberang saat ini. Begitu kendaraan mulai sepi, ia segera melintas. Anita kemudian memilih jalur alternatif. Sebuah jalan pintas yang menghubungkan jalan utama dengan stasiun, di sela-sela pemukiman padat penduduk. Benar saja, lima menit kemudian ia sudah sampai di sana.
Setelah mengantri di loket, Anita segera memasuki peron. Dalam hati ia berharap-harap cemas, semoga kereta tidak penuh. Maklum temannya pernah bercerita, kereta ekonomi sering kali laris manis di saat liburan atau hari Minggu seperti sekarang. Dan ini adalah pertama kalinya ia naik kereta api kelas ekonomi. Perasaannya tentu saja bercampur aduk saat ia menunggu kereta datang.
Tepat jam 9.15 gemeretak laju gerbong kereta mulai terdengar memasuki stasiun. Dan kekhawatiran Anita menjadi kenyataan. Kereta ternyata penuh sesak dengan penumpang.
“Ughh …”
Anita tampak ikut berdesakan di antara penumpang lain yang berebut menaiki gerbong, berharap masih menjumpai bangku yang kosong. Beruntung tubuhnya yang mungil bisa segera lolos dari desak-desakan itu. Hingga ia bisa secepatnya mencari tempat duduk yang masih tersisa. Di gerbong paling belakang akhirnya Anita bisa menemukan tempat duduk tersebut.
“Alhamdulillah …,” ucapnya sedikit lega.
Kecemasan belum berhenti sampai di situ. Ancaman pencopet mulai menghantui pikirannya. Tas ransel kecil tempat ia menyimpan sejumlah uang dan telepon genggam, sejak tadi di dekapnya. Sesekali waktu ia sibuk memasukkan tangannya ke dalam tas, memastikan isinya tidak berkurang sedikit pun.
Kereta terus berjalan meninggalkan stasiun yang sudah tidak terlihat lagi. Rangkaian gerbongnya dari jauh tampak meliuk-liuk laksana ular raksasa yang sedang berjalan. Terkadang mendaki dan suatu waktu menurun. Mengikuti liku-liku rel di tanah yang mulai memasuki daerah perbukitan.
Anita duduk dengan gelisah. Suara pedagang asongan yang sejak tadi berseliweran menawarkan barang dagangan sangat mengganggu telinganya. Ia sama sekali tidak menyangka terjebak dalam situasi seperti ini. Ada sepercik penyesalan mengapa ia tadi tidak memutuskan naik bis saja. Tapi ia pun tidak ingin menyerah. Anita sama sekali tidak ingin kalah. Dirinya terlanjur menerima tantangan dari teman sebangkunya di kelas untuk naik kereta api kelas ekonomi sendirian.
“Sarah, akan kubuktikan aku berani dan tidak secengeng yang kau dan teman-teman tuduhkan,” gumam Anita dalam hati.
Sekuat tenaga Anita berusaha menghimpun energi keberanian dalam dirinya. Agar esuk hari ia bisa kembali ke sekolah dengan bangga. Tidak lagi mendapat predikat anak mama sebagaimana gelar yang disematkan Kakak-Kakak Kedisiplinan sewaktu MOS minggu lalu. Julukan tersebut jelas sangat menjengkelkan perasaannya. Ia tidak ingin lagi dianggap sebagai anak mama. Ia merasa saat ini dirinya sudah cukup dewasa. Bukan pula anak mama yang cengeng dan manja, sebagaimana anggapan teman-teman sekolahnya.
Setengah jam sudah Anita duduk menikmati gemeretak laju gerbong kereta api. Sayup-sayup alunan musik grup pengamen jalanan mulai terdengar dari gerbong sebelah. Bersaing dengan suara pedagang asongan yang tidak pernah bosan menawarkan barang dagangannya.
Udara dalam gerbong terasa semakin panas. Anita berulang kali menghapus peluhnya. Sesekali ia menutup hidungnya dengan kertas tisu. Bau asap rokok terus menari-nari di sekitarnya. Membuat hatinya semakin dongkol.
“Dasar nggak tahu diri! Sepanas ini masih merokok juga!” umpatnya dalam hati.
Di kejauhan pedagang kipas menuai untung. Udara panas membuat hampir semua penumpang kegerahan. Begitu pula dengan Anita. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sejak tadi ia kebingungan mencari sesuatu yang bisa dibuat kipas. Dalam hati terus berharap pedagang kipas itu segera mendekati tempat duduknya.
“Kipas …kipas…kipas Bu. Kipas Mbak …”
“Ah …Riko …”
Anita menajamkan pandangannya. Sepertinya ia mengenal sosok itu. Dan ia pun semakin terkejut ketika sosok tersebut mulai mendekat ke arahnya.
“Kipas Mbak …?”
“Riko… kamu???”
Keterkejutan Anita semakin memuncak begitu menjumpai sosok penjual kipas itu tidak lain adalah Riko, teman sekelasnya.
“Nita, sendirian?” sapa Riko dengan tenang.
“Iya, ngapain kamu di sini?” tanya Anita keheranan.
Riko tersenyum simpul. Ia kemudian menjawab, “Seperti yang kamu lihat. Berjualan kipas. Kamu mau beli, kan?”
“Kamu tidak bercanda?” tanya Anita masih setengah tidak percaya.
“Tiga kali dalam seminggu aku berjualan kipas di kereta. Biasanya sepulang sekolah. Tapi kalau hari Minggu seperti sekarang bisa sejak pagi,” jelas Riko.
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanya Anita tidak mengerti.
Beribu tanda tanya mengendap di benaknya. Sosok Riko yang dikenalnya pendiam itu tiba-tiba ia jumpai berjualan kipas. Tidak malukah dia?
“Demi membantu ibuku, mencari tambahan biaya SPP,” ungkapnya dengan polos.
“Ayahmu?” tanya Anita seperti sedang menginterogasi.
“Sudah meninggal sejak aku bayi …,” kenang Rio. “Bagaimana, jadi beli kipasku?”
Untuk sesaat Anita tercenung. Tak berapa lama kemudian ia pun tersenyum. Ia segera mengeluarkan selembar uang puluhan ribu lalu menyerahkannya pada Riko.
“Kembalinya buat kamu.”
“Terima kasih. Kamu simpan saja buat ditabung. Maaf, aku harus berjualan lagi.”
Riko berlalu meninggalkan Anita yang masih duduk termangu. Dalam hati, Anita merasa kagum terhadap Riko. Si Pendiam itu ternyata anak yang mandiri dan memiliki semangat juang dalam mengarungi hidup. Ah … Anita tiba-tiba merasa malu pada dirinya sendiri. Ia yang selalu ingin dianggap dewasa dan mandiri ternyata belum sepenuhnya benar. Justru ia mulai sadar, apa yang diucapkan teman-temannya memang benar adanya. Dirinya masih anak mama yang cengeng. Anita bisa merasakan itu. Bukankah ia sempat menangis dan tidak bisa tidur semalaman saat pertama kalinya tidur di rumah kos. Bahkan ia merengek pada papanya minta dibelikan guling buaya baru karena guling buaya miliknya tertinggal di rumahnya. Oh … Anita berulang kali mendesah panjang.
Kereta terus melaju. Setelah melewati dua stasiun kecil, akhirnya perjalanan Anita sampai sudah di tujuan. Rasa tegang dan kecemasan yang sempat ia rasakan hampir selama satu jam di kereta kini perlahan mulai sirna. Tiba-tiba, ringtone incoming allert di telepon genggamnya berdering.
“Halo, Paman di sebelah mana?”
Anita menebarkan pandangannya ke sekeliling ruang tunggu. Begitu pandangannya menemukan sosok yang dicarinya, ia pun berlari-lari kecil menuju ke sana.
“Nita, bagaimana kau baik-baik saja?” sambut Paman Anita.
“Alhamdulillah… Paman sudah sejak tadi menunggu?”
“Hampir lima belas menit. Ayo kita segera pulang. Bibi dan Erni sudah sejak tadi menunggumu.”
Keduanya berjalan menuju ke tempat parkir. Paman Anita segera mengemudikan Toyota Rush miliknya dengan kecepatan sedang, meninggalkan parkiran stasiun yang masih ramai dengan lalu lalang penumpang kereta. Sepanjang perjalanan menuju rumah pamannya, Anita masih memikirkan pertemuannya dengan Riko di atas kereta tadi.
“Kenapa diam saja, Nita? Kecapaian habis naik kereta ekonomi?” tanya pamannya diiringi derai tawa melihat Anita yang menatap kosong.
“Ah, Paman bercanda,” ucap Anita tersipu malu.
“Kamu sudah menang kan hari ini? Berani naik kereta api kelas ekonomi sendirian ke sini?” ledek pamannya lagi.
Anita terdiam. Ah … kemenangan itu baginya sekarang tidak ada artinya lagi dibandingkan keberanian dan kemandirian Riko dalam mengarungi riak-riak kehidupan ini. Sorot matanya menerawang jauh ke depan. Ia mulai tenggelam dalam lamunan dan lautan penyesalan. Betapa seragam putih abu-abu kebanggaannya belum menjanjikan apa-apa untuk sebuah kemandirian dan melepaskan gelarnya sebagai anak mama.
“Pukk …”
Paman Anita menepuk pundaknya.
“Kita sudah sampai.”
Anita tersadar dari lamunannya. Ia pun turun dari mobil mengikuti langkah kaki pamannya, meninggalkan bayang-bayang Riko yang terus bercokol di benaknya ***
Beji, Pasuruan, 8 Pebruari 2009
Rona kegembiraan terpancar jelas dari wajah manis Anita. Ia baru saja melepaskan status dirinya sebagai anak SMP. Dan kini Anita resmi menyandang predikat pelajar SMU, mengenakan seragam baru kebanggaannya—putih abu-abu.
Usai kelulusan Anita langsung mendaftarkan diri ke sebuah SMU favorit di kota. Beruntung Dewi Fortuna berada di pihaknya. Ia bisa lulus seleksi dan diterima di sana. Bahkan ia harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya saat memutuskan pilihan, tinggal di rumah kos dekat sekolahnya. Jarak yang cukup jauh antara rumah dengan sekolah barunya tidak memungkinkan Anita menempuh perjalanan pulang pergi setiap hari. Apalagi usai sekolah ia mengikuti les pelajaran di sebuah bimbingan belajar. Bisa dibayangkan jika ia tetap ngotot dan tidak menuruti saran papa mamanya, pastilah waktunya habis di perjalanan. Waktu istirahat pun jelas ikut tersita.
Kini Masa Orientasi Sekolah (MOS) baru saja berakhir. Anita bisa tersenyum lega. Setidaknya ia tidak lagi mendengar teriakan-teriakan arogan Kakak-Kakak Kedisiplinan yang acap kali memberikan sangsi kepada peserta MOS. Ia juga tidak perlu lagi mengenakan atribut-atribut yang cukup memuakkan untuk dilihat. Setiap hari ke sekolah memakai ‘seragam kebesaran’: tas plastik, topi kardus, rambut kuncir dua berponi, dan kalung rafia berbandul namanya dalam ukuran besar. Mengingat semua itu membuat Anita tersiksa. Harapannya tentu bisa segera mengenakan baju seragam putih abu-abu kebanggaannya, bukan malah berdandan ala sekolah bebek. Ia hanya bisa tersenyum nyegir mengenang masa-masa tersebut. Dalam benaknya masih melekat kuat saat ia terkena hukuman. Waktu itu dirinya tidak mampu menjalankan tugas dari salah satu Kakak Kedisiplinan, makan kerupuk bundar besar dalam tempo satu menit. Saat waktu habis justru Anita tersendak-sendak dan kerupuknya masih tersisa hampir separuh. Kakak-Kakak Kedisiplinan yang berjumlah delapan orang langsung mengerjai Anita. Ia disuruh keliling barisan sambil mengucapkan, “Aku anak mama, makan minta disuapin.” Ughh… Kesal sekali dan sekaligus membuatnya malu tiada terperi. Wajahnya sempat memerah menyerupai kepiting rebus, menahan air mata yang sudah hampir tak terbendung lagi.
Anita menutup diarynya. Ia telah puas menumpahkan perasaannya selama sepekan ini melalui goresan penanya. Minggu pagi ini ia sengaja tidak pulang ke rumah. Anita telah merencanakan pergi merayakan ulang tahun sepupunya yang berada di luar kota. Siang nanti akan diadakan pesta kecil-kecilan di sana.
“Nita, kamu serius berangkat sendiri?” tanya ibu kos setengah tak percaya.
Ibu kos menatap Anita penuh keraguan. Wanita itu tahu betul sosok Anita yang masih manja dan kekanak-kanakan. Diam-diam ia tidak tega membiarkan Anita berangkat naik kereta api sendirian. Apalagi menurut pengakuan Anita, dirinya belum pernah sama sekali naik kereta api.
“Nggak masalah kok, Bu. Nanti dijemput paman di stasiun,” jawab Anita mencoba meyakinkan keraguan wanita yang berdiri di depannya itu.
“Baiklah, yang penting kamu berhati-hati,” pesan ibu kos.
“Ya, Bu,” jawab Anita sambil tersenyum.
“Kamu naik kereta jam berapa?”
“Jam delapan, Bu. Sebentar lagi saya berangkat, biar nggak telat.”
“Pulangnya jam berapa dari sana?”
“Insya Allah jam tiga sore, Bu. Mungkin pulangnya naik bis karena jadwal kereta ke sini adanya malam.”
“Baiklah. Anita kamu hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana.”
Masih dengan kecemasan wanita itu melepas kepergian Anita. Akhirnya Anita berangkat menuju stasiun setelah berpamitan dengan ibu kosnya. Beruntung jarak rumah kosnya dekat dengan stasiun. Dengan berjalan kaki, ia hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit agar bisa sampai di sana.
Anita melirik arloji di lengan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 8.40. Ia segera mempercepat langkah kakinya. Matahari mulai nampak beranjak naik dari posisinya semula. Terik panasnya pun terasa semakin menyengat kulit. Anita mengeluarkan selembar kertas tisu dari balik sakunya. Ia perlahan menyeka butiran keringat tersebut yang kini mulai menetes.
Sesampai di sebuah perempatan jalan, ia sejenak menghentikan langkahnya. Lalu lalang kendaraan yang mulai padat tidak memungkinkannya menyeberang saat ini. Begitu kendaraan mulai sepi, ia segera melintas. Anita kemudian memilih jalur alternatif. Sebuah jalan pintas yang menghubungkan jalan utama dengan stasiun, di sela-sela pemukiman padat penduduk. Benar saja, lima menit kemudian ia sudah sampai di sana.
Setelah mengantri di loket, Anita segera memasuki peron. Dalam hati ia berharap-harap cemas, semoga kereta tidak penuh. Maklum temannya pernah bercerita, kereta ekonomi sering kali laris manis di saat liburan atau hari Minggu seperti sekarang. Dan ini adalah pertama kalinya ia naik kereta api kelas ekonomi. Perasaannya tentu saja bercampur aduk saat ia menunggu kereta datang.
Tepat jam 9.15 gemeretak laju gerbong kereta mulai terdengar memasuki stasiun. Dan kekhawatiran Anita menjadi kenyataan. Kereta ternyata penuh sesak dengan penumpang.
“Ughh …”
Anita tampak ikut berdesakan di antara penumpang lain yang berebut menaiki gerbong, berharap masih menjumpai bangku yang kosong. Beruntung tubuhnya yang mungil bisa segera lolos dari desak-desakan itu. Hingga ia bisa secepatnya mencari tempat duduk yang masih tersisa. Di gerbong paling belakang akhirnya Anita bisa menemukan tempat duduk tersebut.
“Alhamdulillah …,” ucapnya sedikit lega.
Kecemasan belum berhenti sampai di situ. Ancaman pencopet mulai menghantui pikirannya. Tas ransel kecil tempat ia menyimpan sejumlah uang dan telepon genggam, sejak tadi di dekapnya. Sesekali waktu ia sibuk memasukkan tangannya ke dalam tas, memastikan isinya tidak berkurang sedikit pun.
Kereta terus berjalan meninggalkan stasiun yang sudah tidak terlihat lagi. Rangkaian gerbongnya dari jauh tampak meliuk-liuk laksana ular raksasa yang sedang berjalan. Terkadang mendaki dan suatu waktu menurun. Mengikuti liku-liku rel di tanah yang mulai memasuki daerah perbukitan.
Anita duduk dengan gelisah. Suara pedagang asongan yang sejak tadi berseliweran menawarkan barang dagangan sangat mengganggu telinganya. Ia sama sekali tidak menyangka terjebak dalam situasi seperti ini. Ada sepercik penyesalan mengapa ia tadi tidak memutuskan naik bis saja. Tapi ia pun tidak ingin menyerah. Anita sama sekali tidak ingin kalah. Dirinya terlanjur menerima tantangan dari teman sebangkunya di kelas untuk naik kereta api kelas ekonomi sendirian.
“Sarah, akan kubuktikan aku berani dan tidak secengeng yang kau dan teman-teman tuduhkan,” gumam Anita dalam hati.
Sekuat tenaga Anita berusaha menghimpun energi keberanian dalam dirinya. Agar esuk hari ia bisa kembali ke sekolah dengan bangga. Tidak lagi mendapat predikat anak mama sebagaimana gelar yang disematkan Kakak-Kakak Kedisiplinan sewaktu MOS minggu lalu. Julukan tersebut jelas sangat menjengkelkan perasaannya. Ia tidak ingin lagi dianggap sebagai anak mama. Ia merasa saat ini dirinya sudah cukup dewasa. Bukan pula anak mama yang cengeng dan manja, sebagaimana anggapan teman-teman sekolahnya.
Setengah jam sudah Anita duduk menikmati gemeretak laju gerbong kereta api. Sayup-sayup alunan musik grup pengamen jalanan mulai terdengar dari gerbong sebelah. Bersaing dengan suara pedagang asongan yang tidak pernah bosan menawarkan barang dagangannya.
Udara dalam gerbong terasa semakin panas. Anita berulang kali menghapus peluhnya. Sesekali ia menutup hidungnya dengan kertas tisu. Bau asap rokok terus menari-nari di sekitarnya. Membuat hatinya semakin dongkol.
“Dasar nggak tahu diri! Sepanas ini masih merokok juga!” umpatnya dalam hati.
Di kejauhan pedagang kipas menuai untung. Udara panas membuat hampir semua penumpang kegerahan. Begitu pula dengan Anita. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sejak tadi ia kebingungan mencari sesuatu yang bisa dibuat kipas. Dalam hati terus berharap pedagang kipas itu segera mendekati tempat duduknya.
“Kipas …kipas…kipas Bu. Kipas Mbak …”
“Ah …Riko …”
Anita menajamkan pandangannya. Sepertinya ia mengenal sosok itu. Dan ia pun semakin terkejut ketika sosok tersebut mulai mendekat ke arahnya.
“Kipas Mbak …?”
“Riko… kamu???”
Keterkejutan Anita semakin memuncak begitu menjumpai sosok penjual kipas itu tidak lain adalah Riko, teman sekelasnya.
“Nita, sendirian?” sapa Riko dengan tenang.
“Iya, ngapain kamu di sini?” tanya Anita keheranan.
Riko tersenyum simpul. Ia kemudian menjawab, “Seperti yang kamu lihat. Berjualan kipas. Kamu mau beli, kan?”
“Kamu tidak bercanda?” tanya Anita masih setengah tidak percaya.
“Tiga kali dalam seminggu aku berjualan kipas di kereta. Biasanya sepulang sekolah. Tapi kalau hari Minggu seperti sekarang bisa sejak pagi,” jelas Riko.
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanya Anita tidak mengerti.
Beribu tanda tanya mengendap di benaknya. Sosok Riko yang dikenalnya pendiam itu tiba-tiba ia jumpai berjualan kipas. Tidak malukah dia?
“Demi membantu ibuku, mencari tambahan biaya SPP,” ungkapnya dengan polos.
“Ayahmu?” tanya Anita seperti sedang menginterogasi.
“Sudah meninggal sejak aku bayi …,” kenang Rio. “Bagaimana, jadi beli kipasku?”
Untuk sesaat Anita tercenung. Tak berapa lama kemudian ia pun tersenyum. Ia segera mengeluarkan selembar uang puluhan ribu lalu menyerahkannya pada Riko.
“Kembalinya buat kamu.”
“Terima kasih. Kamu simpan saja buat ditabung. Maaf, aku harus berjualan lagi.”
Riko berlalu meninggalkan Anita yang masih duduk termangu. Dalam hati, Anita merasa kagum terhadap Riko. Si Pendiam itu ternyata anak yang mandiri dan memiliki semangat juang dalam mengarungi hidup. Ah … Anita tiba-tiba merasa malu pada dirinya sendiri. Ia yang selalu ingin dianggap dewasa dan mandiri ternyata belum sepenuhnya benar. Justru ia mulai sadar, apa yang diucapkan teman-temannya memang benar adanya. Dirinya masih anak mama yang cengeng. Anita bisa merasakan itu. Bukankah ia sempat menangis dan tidak bisa tidur semalaman saat pertama kalinya tidur di rumah kos. Bahkan ia merengek pada papanya minta dibelikan guling buaya baru karena guling buaya miliknya tertinggal di rumahnya. Oh … Anita berulang kali mendesah panjang.
Kereta terus melaju. Setelah melewati dua stasiun kecil, akhirnya perjalanan Anita sampai sudah di tujuan. Rasa tegang dan kecemasan yang sempat ia rasakan hampir selama satu jam di kereta kini perlahan mulai sirna. Tiba-tiba, ringtone incoming allert di telepon genggamnya berdering.
“Halo, Paman di sebelah mana?”
Anita menebarkan pandangannya ke sekeliling ruang tunggu. Begitu pandangannya menemukan sosok yang dicarinya, ia pun berlari-lari kecil menuju ke sana.
“Nita, bagaimana kau baik-baik saja?” sambut Paman Anita.
“Alhamdulillah… Paman sudah sejak tadi menunggu?”
“Hampir lima belas menit. Ayo kita segera pulang. Bibi dan Erni sudah sejak tadi menunggumu.”
Keduanya berjalan menuju ke tempat parkir. Paman Anita segera mengemudikan Toyota Rush miliknya dengan kecepatan sedang, meninggalkan parkiran stasiun yang masih ramai dengan lalu lalang penumpang kereta. Sepanjang perjalanan menuju rumah pamannya, Anita masih memikirkan pertemuannya dengan Riko di atas kereta tadi.
“Kenapa diam saja, Nita? Kecapaian habis naik kereta ekonomi?” tanya pamannya diiringi derai tawa melihat Anita yang menatap kosong.
“Ah, Paman bercanda,” ucap Anita tersipu malu.
“Kamu sudah menang kan hari ini? Berani naik kereta api kelas ekonomi sendirian ke sini?” ledek pamannya lagi.
Anita terdiam. Ah … kemenangan itu baginya sekarang tidak ada artinya lagi dibandingkan keberanian dan kemandirian Riko dalam mengarungi riak-riak kehidupan ini. Sorot matanya menerawang jauh ke depan. Ia mulai tenggelam dalam lamunan dan lautan penyesalan. Betapa seragam putih abu-abu kebanggaannya belum menjanjikan apa-apa untuk sebuah kemandirian dan melepaskan gelarnya sebagai anak mama.
“Pukk …”
Paman Anita menepuk pundaknya.
“Kita sudah sampai.”
Anita tersadar dari lamunannya. Ia pun turun dari mobil mengikuti langkah kaki pamannya, meninggalkan bayang-bayang Riko yang terus bercokol di benaknya ***
Beji, Pasuruan, 8 Pebruari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
